Injeksi Creative Center dan Poltekkes Kupang Gagas Jus Pepaya Hijau dari NTT
- 05 Agt 2026 07:28 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Injeksi Creative Center menggagas ide brilian bagi mahasiswa Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Kupang, Poltekkes Kemenkes Kupang. Gagasan itu adalah menciptakan Jus Pepaya Hijau sebagai karya anak muda Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Direktur Utama Injeksi Creative Center Kupang, Jeksi Siokain, mengatakan ide Jus Pepaya Hijau berawal dari kebiasaannya suka makan pepaya. "Jadi ide ini saya kan agak gila, kadang inovasi tidak dibutuhkan dari orang pintar, tapi juga dari orang gila," ujar Jeksi kepada wartawan di Kupang, Sabtu 1 Agustus 2026.
Selain pepaya, Jeksi mengaku menyukai banyak hal. Ia mengungkapkan ide membuat Jus Pepaya Hijau sudah ditawarkan ke berbagai tempat sejak 2021. Mulai dari organisasi, gereja, hingga kampus. Namun, banyak yang menganggap ide itu tidak mungkin dan meremehkannya.
Ide dari Injeksi Creative Center baru disambut Poltekkes Kemenkes Kupang pada 9 Juli 2026. Saat itu, Jeksi menjadi pemateri seminar di kampus tersebut. Kurang dari sebulan, para mahasiswa berhasil merealisasikan ide Jus Pepaya.
Disaring dari 81 Mahasiswa
Sekitar 81 mahasiswa terlibat dalam inovasi tersebut. Melalui beberapa tahapan seperti penyusunan naskah, resep, pengolahan, hingga publikasi di media sosial, tersaring empat orang yang berani mewujudkan ide tersebut.
"Mereka diseleksi melalui beberapa tahapan, diberi kesempatan memublikasikan lewat media sosial agar bisa melihat respons masyarakat. Dari cara tersebut tersaring 4 orang yang terpilih," kata Dirut Jeksi.
Jeksi menegaskan, proses seleksi cukup panjang. Namun karena mahasiswa Gen Z adaptif dan respons cepat, program yang digagas akhirnya terlaksana dalam waktu kurang lebih satu bulan.
Dari empat orang terbaik itu, Injeksi Creative Center menggelar kompetisi untuk menilai hasil karya mereka dalam mengolah Jus Pepaya Hijau. Kompetisi berlangsung di Lantai II Aula Injeksi Creative Center dengan melibatkan juri dari Pemerintah Kota Kupang, seniman NTT, dan akademisi Poltekkes Kemenkes Kupang.
Empat mahasiswa Program Studi D-III Farmasi Poltekkes Kemenkes Kupang sukses mengembangkan Jus Pepaya Hijau berbahan dasar buah pepaya mentah. Produk ini diyakini sebagai inovasi perdana di dunia.
Puncak kompetisi sekaligus penobatan juara berlangsung di Injeksi Creative Center, Kota Kupang, Sabtu 1 Agustus 2026. Para finalis mendemonstrasikan proses pembuatan Jus Pepaya Hijau di hadapan tim juri. Penilaian meliputi kecepatan, higienitas, sanitasi, cita rasa, tekstur, kandungan serat, hingga penyajian.
Dari empat finalis, Christo Dwi Mahendra Mbura meraih Juara I. Mahasiswa Semester V Program Studi D-III Farmasi asal Tuapukan, besar di Amfoang Barat Daya itu dinilai mampu menghadirkan racikan terbaik dan berpotensi besar dikembangkan menjadi produk komersial.

Pose bersama seusai pemberian hadiah kepada empat mahasiswa Poltekes Kemenkes Kupang yang melakukan demo Jus Pepaya Hijau dari NTT yang berlangsung di Lantai II Aula Injeksi Creative Center Kupang, Sabtu 1 Agustus 2026.(Foto: Aris Lake/RRI Kupang)
Jeksi mengungkapkan hasil penilaian sangat luar biasa. Menurut prediksinya di awal, inovasi dari empat mahasiswa ini merupakan yang terbaik.
Varian kuliner dengan berpatokan pada tiga aspek.
Pertama, harga terjangkau. Jeksi melihat rata-rata penjualan jus di Kota Kupang dan NTT berkisar Rp10.000-Rp20.000. Karena itu ia ingin membuat jus dengan harga di bawah Rp10.000 agar bisa dijangkau semua kalangan.
"Jadi kita buat jus dengan harga di bawah sepuluh ribu sehingga kalangan menengah dan bawah juga bisa menikmatinya," ucapnya.
Kedua, sisi kesehatan. Resep yang diberikan 90 persen dari bahan alami. "Jadi ini tidak ada pemanis buatan, pengawet, kecuali Yakult. Yang lain bahan alami dari lingkungan kita," ucapnya.
Ketiga, pemanfaatan potensi pangan lokal. Jeksi menyimpulkan, esensi pembuatan Jus Pepaya adalah harga murah dan terjangkau, sehat, serta berasal dari pemanfaatan potensi pangan lokal.
Ia menjelaskan, jika resep Jus Pepaya Hijau sudah dipatenkan maka akan disebarluaskan ke masyarakat. Tujuannya agar warga di kampung juga bisa membuat minuman tersebut tanpa harus membeli jus modern.
Injeksi Creative Center juga berupaya menghadirkan ide-ide baru bagi anak muda, terutama di sisi bisnis. Ia menilai umumnya mahasiswa masih mengandalkan semua biaya dari orang tua. "Jarang sekali terdapat mahasiswa yang memiliki pekerjaan sendiri," ujarnya.
Menurutnya, Gen Z cenderung menolak pekerjaan berat. Mereka menginginkan pekerjaan mudah tapi dengan finansial yang besar. Kehadiran Jus Pepaya menjadi alternatif yang mudah. Dari ide itu, mahasiswa bisa mempraktikkannya di kos atau tempat lain yang nantinya menghasilkan omzet layak.
Ia mengungkapkan margin untuk satu cup jus berkisar Rp4.000-Rp5.000. Jika dalam sehari terjual 20 cup, hasilnya bisa mencapai Rp100.000 per hari. Dalam jangka waktu 25 hari, omzetnya setara pekerja formal.
Ini merupakan komitmen Injeksi untuk menciptakan generasi muda yang kreatif, inovatif, dan unggul. Injeksi hadir bukan sekadar sosialisasi, tetapi mulai dari ide, pendampingan, seleksi, hingga perjuangan mendapatkan sertifikasi halal dari BPOM.
"Jadi kami pergi bukan seminar lalu pulang. Intinya kasih ide, pendampingan, hingga sampai ke tahap sertifikasi halalnya. Diperkirakan tahun ini akan segera selesai," jelasnya.
Dukungan Poltekkes dan Pemkot Kupang
Ketua Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Kupang, Dr. apt Ni Nyoman Yuliani, menilai inovasi Injeksi sangat baik dan luar biasa bagi generasi muda dan masyarakat. Sebab, sesuatu yang biasa jika dimanfaatkan dengan baik akan menjadi luar biasa seperti Jus Pepaya Hijau.
Menurutnya, pepaya biasanya diolah dalam bentuk sayur. Umumnya masyarakat awam tidak mengetahui kandungannya. "Inovasi berbau ilmiah yang disponsori Injeksi ini sangat mengedukasi masyarakat untuk mengetahui nutrisi pepaya seperti vitamin, zat pemulihan tubuh, dan kandungan positif lainnya," ucap Jeksi
Dari ide cemerlang itu diharapkan bisa menggerakkan masyarakat untuk kembali ke alam yang bisa dikelola dan dikembangkan dengan baik. Periset Pemerintah Kota Kupang, Dr. Malisye Christin Sjioen, mengatakan beberapa bulan lalu Pemkot Kupang sudah membuat klinik bisnis untuk HAKI produk lokal.
HAKI merupakan hak hukum eksklusif yang diberikan kepada pembuat atau pemilik usaha atas merek, desain, atau karya cipta produk asli daerah. Ia mengungkapkan acara itu dibuka langsung oleh Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo. Kini, akses mendapatkan HAKI sudah tersedia di Mal Pelayanan Publik Kota Kupang.
Di sana terdapat stand Kementerian Hukum yang melayani seluruh inovator di daerah, baik ASN maupun masyarakat. Karena itu, ide brilian Injeksi Creative Center bisa mendatangi MPP Kota Kupang untuk mengakses HAKI produk.
"Mahasiswa Poltekkes yang masih di tahap Diploma sudah berani trial and error terhadap sesuatu yang baru. Proses ini akan berlangsung terus karena jus pepaya ini akan diuji apakah diterima pasar atau rasanya cocok untuk orang NTT," ujarnya.
Ia menilai upaya Injeksi Creative Center patut diapresiasi. Mereka telah mengubah sesuatu yang tidak bernilai menjadi bernilai.
"Dari kacamata orang NTT, pepaya ini kan tidak bernilai. Tapi lewat ide Injeksi membuatnya menjadi nilai ekonomi yang luar biasa," kata Dr. Malisye
Ia berharap ide kreatif Injeksi ini sukses hingga menjangkau pasar. Dr. Malisye menuturkan Pemkot Kupang berkomitmen mendukung setiap pemberkasan yang diajukan Injeksi dalam perlindungan HAKI produk lokal melalui satu gerai dari Kemenkum di MPP Kota Kupang. Sebagai Pemkot yang konsen terhadap penelitian dan pengembangan daerah, Pemkot menyusun kebijakan wali kota mulai dari penelitian, pengembangan, hingga inovasi.
Ia menilai proses uji coba yang dilakukan mahasiswa Poltekkes sudah luar biasa sehingga mereka sudah menjadi inovator. Pemerintah Kota Kupang saat ini memiliki kompetisi inovasi melalui pagelaran Innovation Award, namun masih dalam jangkauan terbatas karena dipengaruhi efisiensi anggaran.
Ia memandang jika ada anak muda seperti mahasiswa Poltekkes atau masyarakat yang berinovasi, pemerintah tentu akan mendukung. Dukungan berupa penyediaan perangkat dari pemerintah daerah maupun pusat agar bisa terpublikasi dengan baik di masyarakat.
Sekadar informasi bahwa, apabila produk jus pepaya ini sudah memenuhi standar HAKI, maka akan dilakukan pembukaan gerai serta kampanye pemasaran. Jika semua unsur terpenuhi, produk ini akan didorong trending secara nasional maupun internasional.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....