Menko Pangan: Saatnya Indonesia Stop Impor Garam

  • 30 Jul 2026 16:11 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Rote – Indonesia memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia, namun selama bertahun-tahun masih bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan garam nasional. Pemerintah kini berupaya mengakhiri paradoks tersebut melalui pembangunan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, sebagai fondasi menuju swasembada garam sekaligus membuka ribuan lapangan kerja bagi masyarakat kepulauan.

Komitmen tersebut ditegaskan Menteri Koordinator Bidang Pangan (Menko Pangan) RI Zulkifli Hasan saat meninjau pembangunan K-SIGN bersama Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono serta Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto, Kamis, 30 Juli 2026.

Menurut Zulkifli Hasan, negara dengan kekayaan pesisir seperti Indonesia tidak boleh terus bergantung pada garam dari luar negeri. Karena itu, pemerintah memilih membangun industri garam modern agar nilai tambahnya dinikmati rakyat sendiri.

"Ini kita jaga bersama. Pemerintah daerah, aparat, dan masyarakat harus saling mendukung. Memang ini aset negara, tetapi sejatinya aset rakyat. Kalau garam kita produksi sendiri, manfaat ekonominya tinggal di Indonesia dan dinikmati masyarakat," ujar Zulkifli Hasan.

Ia menegaskan, pembangunan kawasan industri garam merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat kedaulatan pangan dan mengurangi ketergantungan impor komoditas strategis.

"Kalau terus impor, nilai ekonominya mengalir ke negara lain. Padahal kita memiliki potensi luar biasa. Sudah saatnya masyarakat pesisir menjadi pelaku utama yang menikmati kekayaan alam Indonesia," tegasnya.

Dalam kunjungan tersebut, rombongan meninjau tambak garam modern serta Gudang Garam Nasional berkapasitas 10.000 ton. Pemerintah memastikan pembangunan berjalan sesuai target sehingga produksi garam dapat dimulai pada September mendatang.

Saat ini pembangunan K-SIGN telah memasuki Tahap II dengan pengembangan lahan seluas 751,32 hektare. Bersama Tahap I, total kawasan yang dibangun pemerintah mencapai 1.368,25 hektare. Ke depan, kawasan ini memiliki potensi pengembangan hingga 10.764 hektare melalui kolaborasi pemerintah dan sektor swasta.

K-SIGN dirancang sebagai kawasan industri garam modern dan terintegrasi dengan target produktivitas mencapai 200 ton per hektare per tahun serta kualitas garam berkadar NaCl hingga 97 persen, sehingga mampu memenuhi kebutuhan industri maupun konsumsi dalam negeri.

Lebih dari sekadar meningkatkan produksi, kawasan ini akan mampu menyerap tenaga kerja lokal. Kementerian Kelautan dan Perikanan juga akan menyiapkan pelatihan dan sertifikasi bagi masyarakat agar memiliki keterampilan mengelola industri garam modern.

Bagi masyarakat Rote Ndao, pembangunan kawasan ini menjadi harapan baru bagi peningkatan kesejahteraan. Nixon, salah seorang warga Rote Ndao, mengaku optimistis kehadiran KSIGN akan mengubah masa depan daerahnya.

"Kami bersyukur karena Rote dipilih menjadi kawasan industri garam nasional, anak-anak muda nanti tidak perlu jauh mencari pekerjaan. Kami ingin garam dari Rote bisa memenuhi kebutuhan Indonesia dan menjadi kebanggaan daerah kami," ujarnya.

Menko Pangan berharap seluruh pemangku kepentingan menjaga kawasan tersebut sebagai investasi jangka panjang bagi bangsa.

"Kalau kawasan ini berhasil, bukan hanya Rote yang maju. Indonesia akan semakin mandiri memenuhi kebutuhan garamnya, impor bisa terus ditekan, ekonomi daerah tumbuh, dan masyarakat pesisir memperoleh manfaat yang nyata," tutup Zulkifli Hasan.

Turut hadir dalam peninjauan tersebut Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Daniel Johan, Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena, Bupati Rote Ndao Paulus Henuk, Direktur Utama PT Nindya Karya Firmansyah, Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Kemenko Pangan Dandy Satria Iswara, serta para pekerja tambak garam K-SIGN.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....