Kader Posyandu Rela Rogoh Kocek Demi Layanan Warga
- 15 Jun 2026 21:04 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID,Kupang-Di balik pelayanan kesehatan ibu dan anak yang terus berjalan di Posyandu ILP Bogenville 7, Kelurahan Oesapa, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, terdapat dedikasi para kader yang tak jarang harus mengeluarkan uang pribadi demi memastikan seluruh warga mendapatkan pelayanan yang layak. Ketua Kader Posyandu ILP Bogenville 7, Rofina Janggu Obe, mengungkapkan bahwa keterbatasan anggaran operasional sering kali memaksa para kader untuk mencari solusi secara swadaya.
Mulai dari menggandakan kartu pencatatan sasaran hingga menyediakan makanan tambahan bagi anak-anak yang datang ke Posyandu. "Kami kadang harus pakai uang sendiri untuk fotokopi kartu bantu karena jumlah yang diberikan tidak mencukupi kebutuhan sasaran yang ada," ujar Rofina saat ditemui di Posyandu Bogenville 7, Rabu 10 Juni 2026.
Posyandu tersebut melayani tiga wilayah RT dengan total lebih dari 200 sasaran yang terdiri atas balita, ibu hamil, ibu menyusui, serta kelompok lansia. Namun, jumlah kartu bantu yang diterima dari dinas kesehatan tidak sebanding dengan kebutuhan di lapangan.
Akibatnya, kader harus mengeluarkan biaya tambahan agar seluruh peserta memiliki dokumen pencatatan yang diperlukan untuk memantau kondisi kesehatan mereka secara berkala. Tidak hanya itu, para kader juga kerap menggunakan dana pribadi untuk membeli makanan ringan dan air minum bagi anak-anak yang datang ke Posyandu.
Langkah itu dilakukan agar tidak ada anak yang merasa kecewa ketika kegiatan pemberian makanan tambahan hanya ditujukan kepada sasaran tertentu. "Kalau ada anak yang tidak dapat makanan tambahan, mereka kadang menangis atau tidak mau ditimbang. Jadi kami berusaha supaya semua yang datang tetap mendapat sesuatu, meskipun hanya kue dan air minum," katanya.
Dedikasi tersebut dilakukan di tengah berbagai keterbatasan fasilitas yang masih dihadapi Posyandu Bogenville 7. Dengan jumlah sasaran mencapai lebih dari 200 orang, fasilitas kursi yang tersedia hanya sekitar 30 unit.
Saat musim hujan, pelayanan bahkan sempat terganggu karena lokasi Posyandu belum memiliki tempat yang memadai. Rofina mengaku bersama para kader lainnya berupaya memperbaiki kondisi tersebut secara bertahap.
Sebagian dana insentif yang diterima dari kegiatan pelayanan digunakan untuk membeli terpal guna melindungi peserta Posyandu dari panas dan hujan. "Kami berpikir bukan hanya untuk kader, tetapi juga bagaimana masyarakat yang datang bisa lebih nyaman saat mengikuti kegiatan Posyandu," ujarnya.
Meski menghadapi berbagai tantangan, semangat para kader tidak surut. Mereka tetap menjalankan tugas mulai dari pendataan, penimbangan balita, penyuluhan kesehatan, hingga pendampingan keluarga yang memiliki anak berisiko stunting.
Kerja keras itu membuahkan hasil. Rofina menyebutkan bahwa jumlah anak dengan kondisi gizi buruk dan gizi kurang yang sebelumnya mencapai sekitar 20 kasus kini berhasil ditekan hingga nyaris tidak ditemukan lagi. Menurutnya, capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama antara kader, tenaga kesehatan, serta dukungan masyarakat yang aktif mengikuti kegiatan Posyandu.
Ia berharap pemerintah dan para pemangku kepentingan dapat memberikan perhatian lebih terhadap kebutuhan sarana dan operasional Posyandu, sehingga pelayanan kepada masyarakat dapat berjalan semakin optimal. Bagi Rofina dan rekan-rekan kader lainnya, kesehatan anak-anak dan ibu di lingkungan mereka tetap menjadi prioritas utama, bahkan ketika harus berkorban menggunakan uang pribadi demi memastikan pelayanan tetap berjalan. (DW)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....