Mendi Project Dorong Peran Keluarga dan Sekolah Cegah Kekerasan
- 12 Jun 2026 17:11 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak tidak boleh hanya berfokus pada proses hukum setelah kejadian (penanganan pasca-kasus). Langkah paling mendasar dan krusial yang harus diambil adalah memutus mata rantai kekerasan tersebut sejak dini melalui pencegahan di tingkat akar rumput.
Founder Mendi Project, Enjhy Juna, menegaskan bahwa langkah paling sederhana namun paling penting dalam mencegah kekerasan harus dimulai dari unit terkecil masyarakat, yaitu lingkungan keluarga. Rumah harus menjadi tempat pertama di mana anak-anak belajar tentang rasa aman, kasih sayang, dan penghargaan terhadap sesama.
"Sentral pertama untuk memutus rantai kekerasan ini adalah lingkungan keluarga. Proses pembinaan di dalam keluarga harus diubah. Kita harus sadar bahwa mendidik anak dan menganiaya anak adalah dua konteks yang sama sekali berbeda," kata Enjhy dalam wawancara bersama RRI Pro 4 Kupang, Kamis, 11 Juni 2026.
Menurutnya, pola asuh di era modern harus lebih mengedepankan pendekatan verbal yang santun tanpa merusak psikologi anak. Ketika anak tumbuh dalam lingkungan keluarga yang minim kekerasan, mereka tidak akan membawa perilaku agresif tersebut ke ruang publik saat dewasa.
Selain keluarga, Enjhy menyoroti lingkungan sekolah sebagai instrumen penting berikutnya. Sekolah memiliki peran strategis untuk membentuk pola pikir yang adil gender dan menghormati hak-hak perempuan serta anak.
Mendi Project mendorong agar seluruh instansi pendidikan di NTT, mulai dari tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi, memiliki kurikulum atau mata pelajaran khusus mengenai perlindungan perempuan dan anak.
"Psikologi kita orang NTT, apa yang disampaikan oleh guru atau dosen di sekolah sering kali lebih cepat diterima dan dipatuhi daripada apa yang disampaikan oleh orang tua di rumah. Oleh karena itu, edukasi formal ini sangat penting," jelas Enjhy.
Enjhy menambahkan, edukasi pencegahan ini tidak boleh hanya ditargetkan kepada perempuan sebagai calon korban, tetapi yang paling utama adalah kepada laki-laki sejak usia muda. Hal ini berkaca pada rentetan kasus kekerasan yang terjadi di NTT, di mana pelakunya didominasi oleh kaum laki-laki, bahkan sebagian di antaranya masih berusia anak-anak.
Budaya patriarki yang masih kental di NTT, yang sering kali menempatkan perempuan di posisi subordinat atau hanya terbatas pada urusan domestik, harus mulai dikikis lewat bangku sekolah. Laki-laki perlu diedukasi sejak dini untuk menghargai kemandirian perempuan.
Sebagai penutup, Mendi Project mengingatkan bahwa mengubah pola pikir (mindset) sebuah generasi tidak bisa dilakukan secara instan atau oleh satu pihak saja. Diperlukan sinergi yang kuat antara orang tua di rumah dan guru di sekolah.
Pencegahan sejak dini adalah investasi jangka panjang yang paling murah dan efektif. Dengan memperkuat benteng pertahanan di lingkungan keluarga dan menyisipkan nilai-nilai kemanusiaan dalam sistem pendidikan, Nusa Tenggara Timur secara kolektif dapat bertransformasi menjadi daerah yang benar-benar aman, ramah anak, dan ramah perempuan di masa depan. (TT)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....