Petani Didorong Gunakan Pupuk Hayati Hadapi Dampak Pelemahan Rupiah

  • 09 Jun 2026 16:37 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai dirasakan oleh sektor pertanian di Nusa Tenggara Timur. Kenaikan harga sejumlah kebutuhan produksi pertanian, terutama pupuk yang bahan bakunya masih bergantung pada impor, menjadi salah satu dampak yang dihadapi petani di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Kondisi tersebut mendorong pemerintah untuk memperkuat berbagai langkah antisipasi agar produktivitas pertanian tetap terjaga. Selain memastikan ketersediaan pupuk bersubsidi, pemerintah juga terus mengembangkan penggunaan pupuk hayati dan pestisida hayati sebagai alternatif yang lebih murah dan ramah lingkungan.

Pelaksana Tugas Sekretaris Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur, Maria Manek, kepada RRI.CO.ID, Senin 9 Juni 2026, mengatakan pemerintah tetap berkomitmen mendampingi petani dalam menghadapi berbagai tantangan, termasuk dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap biaya produksi pertanian. Menurutnya, salah satu langkah yang dilakukan adalah memastikan petani yang tergabung dalam kelompok tani tetap dapat mengakses pupuk bersubsidi sesuai ketentuan yang berlaku.

"Tentu saja pemerintah tidak mungkin melepaskan tangan terhadap petani-petani, karena kita bergantung kepada hasil pertanian untuk kebutuhan pangan dan ketahanan pangan. Selain penyaluran pupuk bersubsidi, kami juga terus mendorong penggunaan pupuk hayati yang mudah, murah, dan mendukung pertanian berkelanjutan," ucap Maria Manek kepada RRI.CO.ID, Senin 9 Juni 2026.

Ia menjelaskan, kebutuhan pupuk bersubsidi tidak hanya diperuntukkan bagi tanaman pangan, tetapi juga mencakup sektor hortikultura dan perkebunan yang memenuhi persyaratan tertentu. Karena itu, pemerintah terus berupaya menjaga distribusi pupuk agar dapat menjangkau petani yang berhak menerima.

Di sisi lain, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT juga mendorong pemanfaatan pupuk hayati sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia. Menurut Maria, pupuk hayati memiliki sejumlah keunggulan karena bahan bakunya mudah diperoleh, biaya produksinya relatif murah, serta lebih aman bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Untuk mendukung pemanfaatan pupuk hayati, pemerintah secara rutin menggelar pelatihan kepada petani di berbagai daerah. Melalui unit pelaksana teknis yang dimiliki dinas, petani diberikan pengetahuan dan keterampilan untuk membuat pupuk organik, bokashi, PGPR atau Plant Growth Promoting Rhizobacteria, hingga pestisida hayati yang dapat diproduksi secara mandiri.

Program pelatihan tersebut telah diterapkan di sejumlah lokasi percontohan atau pilot project dan menunjukkan hasil yang cukup positif. Sejumlah kelompok tani mulai memanfaatkan pupuk dan pestisida hayati dalam kegiatan budidaya mereka sebagai bagian dari penerapan pertanian berkelanjutan. (AI)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....