Program Ekapata Legasi Diwariskan Almarhum Bupati Umbu Djima untuk Masyarakat
- 27 Mei 2026 14:53 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Sumba - Program Ekapata yang diwariskan almarhum Bupati Dati II Sumba Barat, Drs Umbu Djima, hingga kini masih menjadi kebanggaan masyarakat di Pulau Sumba. Program yang memiliki makna lima pilar kebangsaan tersebut dinilai memberi dampak positif terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat di Sumba Barat.
Pada Sistim Pemerintahan Bupati Dati II Yang meliputi; Sumba Barat, Sumba Tengah, dan Sumba Barat Daya. Pada masa pemerintahan Orde Baru, wilayah Kabupaten Dati II Sumba Barat masih mencakup daerah yang sangat luas sebelum akhirnya dimekarkan menjadi tiga kabupaten.
Di tengah luasnya wilayah pemerintahan tersebut, almarhum dikenal sebagai sosok pemimpin yang dekat dengan rakyat dan aktif mengampanyekan pola hidup hemat kepada masyarakat. Hal senada, di sampaikan Umbu Sappy Pateduk atau yang biasa di kenal Umbu Bintang mantan bupati dia periode kabupaten Sumba Tengah saat memberikan sambutan mewakili keluarga pada momentum acara pengebumian almarhum.
Salah satu legasi terbesar dari program Ekapata adalah ajakan untuk mengendalikan pengeluaran dalam berbagai kegiatan adat. Kebijakan itu bertujuan menjaga keseimbangan ekonomi masyarakat agar tidak terbebani secara berlebihan ketika melaksanakan acara budaya.
Program hidup hemat tersebut masih diwarisi masyarakat Sumba Tengah hingga sekarang. Salah satu bentuk nyata penerapannya ialah pembatasan pembantaian hewan dalam acara adat kematian yang tetap dijalankan oleh sebagian besar masyarakat.
Kebijakan itu kemudian diterjemahkan lebih spesifik oleh Bupati pertama Sumba Tengah, Umbu Sappy Pateduk, melalui konsep Tritunggal. Dalam penerapannya, masyarakat dianjurkan membatasi penyembelihan hewan maksimal tiga ekor pada acara budaya kematian.
Langkah tersebut dilakukan bukan tanpa alasan. Pemerintah dan tokoh masyarakat saat itu menilai pembatasan pembantaian hewan penting untuk menjaga stabilitas ekonomi keluarga serta mengurangi beban masyarakat dalam memenuhi tuntutan adat.
Selain itu, kebijakan tersebut juga bertujuan menjaga populasi ternak di Pulau Sumba. Hewan seperti kerbau, kuda, dan sapi memiliki nilai budaya yang sangat tinggi karena menjadi bagian penting dalam berbagai upacara adat masyarakat setempat.
Dalam tradisi perkawinan adat Sumba, hewan ternak digunakan sebagai mahar atau belis dari pihak laki-laki kepada keluarga perempuan. Mahar tersebut dipandang sebagai bentuk penghormatan kepada calon istri dan keluarganya sebelum pernikahan dilangsungkan.
Hingga kini, masyarakat Sumba masih mengenang program Ekapata sebagai warisan kepemimpinan yang sederhana namun penuh makna. Nilai hidup hemat, penghormatan terhadap adat, dan upaya menjaga keseimbangan ekonomi masyarakat menjadi legasi yang terus hidup lintas generasi di Pulau Sumba.
Tidak hanya itu, program Ekapata juga mencakup gerakan penanaman tanaman perkebunan dan tanaman pangan yang dapat menunjang ekonomi keluarga masyarakat Sumba pada. Berbagai tanaman umur panjang seperti kemiri, kopi, jambu mete dan lain lain yang saat ini dinikmati hasilnya oleh masyarakat Sumba Barat dan sekitarnya.
Ini merupakan berbagai legasi yang di tinggalkan Almarhum Drs Umbu Djima dan jajaran pemerintahannya kepada regenerasi Sumba Barat dan sekitarnya pada Mada pemerintahannya. (Jl)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....