Kemenhub Percepat Infrastruktur Konektivitas NTT Senilai Rp536,5 Miliar

  • 20 Mei 2026 11:13 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Pemerintah melalui APBN, khususnya melalui alokasi anggaran pada Kementerian Perhubungan (Kemenhub) terus berkomitmen memperkuat simpul konektivitas nasional, khususnya di wilayah Kepulauan Nusa Tenggara Timur (NTT). Hingga pertengahan Mei 2026, alokasi DIPA 2026 untuk satuan kerja lingkup Kemenhub di wilayah ini mencapai Rp827,88 Miliar, di mana porsi terbesar dialokasikan langsung untuk Program Infrastruktur Konektivitas sebesar Rp536,52 Miliar atau sekitar 64,8% dari total anggaran.

Langkah strategis ini diambil guna memastikan mobilitas masyarakat, distribusi logistik, dan pemerataan ekonomi di daerah kepulauan serta perbatasan dapat berjalan dengan aman, lancar, dan efisien. Sampai dengan saat ini, realisasi keuangan untuk Program Infrastruktur Konektivitas telah mencapai Rp189,05 Miliar.

Jika digabungkan dengan Program Dukungan Manajemen, total realisasi anggaran Kemenhub di NTT telah menyentuh Rp346,36 Miliar atau sebesar 41,84% dari keseluruhan pagu. Fokus Pengembangan Tiga Matra: Laut, Udara, dan Darat Pengembangan konektivitas di NTT menitikberatkan pada keseimbangan tiga matra transportasi utama guna memutus isolasi geografis.

1. Sektor Transportasi Laut (Pilar Utama Kepulauan): Sebagai wilayah kepulauan, sektor laut mendapatkan porsi terbesar. Anggaran dialokasikan untuk pembangunan serta optimalisasi Infrastruktur Konektivitas Laut (Rp152,89 Miliar) dan Pelayanan Publik Transportasi Laut (Rp138,18 Miliar), termasuk di dalamnya operasional kapal perintis (Tol Laut). Sektor Keselamatan dan Keamanan Transportasi Laut juga diperkuat dengan dukungan anggaran sebesar Rp70,02 Miliar.

2. Sektor Transportasi Udara (Akselerasi Jarak Jauh): Untuk menjaga aksesibilitas antarpulau secara cepat, Kemenhub mengucurkan anggaran pembangunan Infrastruktur Udara sebesar Rp42,68 Miliar, yang didukung oleh pemeliharaan prasarana bandara (Operation & Maintenance) sebesar Rp50,43 Miliar. Sektor penunjang teknis dan pelayanan publik udara masing-masing mendapat alokasi Rp32,12 Miliar dan Rp13,74 Miliar.

3. Sektor Transportasi Darat (Konektivitas Lokal dan Perbatasan): Guna memastikan integrasi antarmoda yang mumpuni, pembangunan Infrastruktur Konektivitas Darat dianggarkan sebesar Rp37,72 Miliar, disusul dengan program keselamatan transportasi darat sebesar Rp10,51 Miliar guna menekan angka kecelakaan lalu lintas.

Pemerataan Anggaran Berbasis Wilayah Kabupaten Kupang menjadi simpul utama logistik dengan alokasi anggaran terbesar mencapai Rp201,81 Miliar, dengan realisasi saat ini sebesar Rp68,41 Miliar. Selain Kupang, sebaran anggaran konektivitas yang signifikan juga diarahkan ke beberapa wilayah strategis lainnya.

Antara lain: Kabupaten Sumba Timur: Rp107,05 Miliar (Realisasi: Rp33,32 Miliar), Kota Kupang: Rp88,29 Miliar (Realisasi: Rp36,57 Miliar), Kabupaten Nagekeo: Rp80,38 Miliar (Realisasi: Rp43,60 Miliar), Kabupaten Sikka: Rp68,10 Miliar (Realisasi: Rp29,61 Miliar). Kabupaten Manggarai Barat (Labuan Bajo): Rp52,69 Miliar (Realisasi: Rp22,23 Miliar).

Alokasi yang merata ini menegaskan bahwa pembangunan konektivitas tidak hanya berpusat pada satu titik, melainkan menyentuh pulau-pulau terluar seperti Rote Ndao (Rp10,21 Miliar), Alor (Rp33,08 Miliar), dan Sabu Raijua (Rp9,79 Miliar) demi mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh masyarakat NTT. Intervensi Khusus Pengendalian Inflasi Melalui Kelancaran Distribusi Sebagai mitigasi terhadap potensi lonjakan harga komoditas pokok di wilayah kepulauan di NTT, Kemenhub mengalokasikan anggaran intervensi inflasi sebesar Rp200,98 Miliar yang difokuskan sepenuhnya pada klaster "Kelancaran Distribusi".

Hingga pertengahan Mei 2026, realisasi anggaran penanganan inflasi ini telah berjalan masif mencapai Rp65,62 Miliar, dengan realisasi khusus pada bulan Mei saja sebesar Rp8,34 Miliar. Pemerintah melalui sinergi Satker Perhubungan di NTT menegaskan bahwa kelancaran operasional moda transportasi (Laut, Udara, dan Darat) berdampak langsung terhadap profil dan upaya pengendalian inflasi di daerah.

Melalui percepatan program operasional dan pemeliharaan sarana perhubungan logistik ini, biaya operasional kapal logistik (termasuk program tol laut), angkutan perintis, dan penerbangan perintis dapat dapat terkendali sedara optimal. (rls/at)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....