Merawat Moderasi Beragama Menguatkan Wawasan Kebangsaan
- 18 Mei 2026 13:59 WIB
- Kupang
RRI.DO.ID, Kupang – Pemuda Katolik Komisariat Cabang Kota Kupang dan Senat Mahasiswa STIPAS Keuskupan Agung Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menggelar talkshow bertajuk “ Merawat Moderasi Beragama di buka Sekretaris daerah (sekda) Jeffry E. Pelt, SH.
Talkshow tersebut menghadirkan sejumlah narasumber lintas agama dan tokoh masyarakat, di antaranya, Ketua STIPAS Keuskupan Agung Kupang, RD Dr. Florens Maxi Un Bria, S.Ag., M.Sos, Ketua UPP Pengembangan Teologi dan PAG Majelis Sinode GMIT, Pdt. Melky Joni Ulu, M.Th dan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah NTT, Dr. Syarifuddin Darajad, S.Sos., M.Hum.
| Baca juga: Uskup Agung Kupang Rabu Abu Tanda Pertobatan |
Pastor Moderator Pemuda Katolik Komda NTT, RD Jefry Bonlay, menegaskan bahwa dialog lintas iman penting dilakukan agar generasi muda tidak terjebak dalam fanatisme sempit. “Fanatisme itu produk dari kebodohan. Karena itu kita harus duduk bersama, saling mendengar, saling berbagi pengalaman hidup supaya bisa berjalan bersama dalam perbedaan,” kata Jefry Bonlay, Sabtu 16/5/2026.
Menurutnya, kehidupan bersama tidak mungkin dibangun tanpa komunikasi dan keterbukaan antarkelompok. Karena itu, ruang-ruang diskusi seperti talkshow tersebut menjadi penting untuk memperkuat kualitas hidup bersama di tengah masyarakat majemuk.
Sementara itu Ketua Pemuda Katolik Komcab Kota Kupang, Valentinus Kopong Masan, mengatakan bahwa tema moderasi beragama diangkat karena realitas sosial saat ini membutuhkan lebih banyak ruang edukasi dan refleksi bersama. “Moderasi beragama tidak boleh berhenti menjadi slogan bahwa NTT adalah Nusa Terindah Toleransi. Kita harus memastikan nilai itu benar-benar hidup dalam tindakan sehari-hari,” ungkapnya.
Sekretaris Daerah Kota Kupang, Jeffry E. Pelt, yang dalam sambutannya menyampaikan refleksi pribadi tentang kehidupan toleransi yang sudah ia alami sejak kecil dalam keluarganya. “Keberagaman itu sudah ada di dalam darah keluarga kami. Kami hidup dengan perbedaan agama, suku, dan budaya. Dan kami merasakan sendiri bahwa kalau saling menghargai, hidup itu menjadi indah sekali,” ujarnya.
Jeffry bahkan membagikan kisah keluarganya yang memiliki anggota keluarga berbeda agama, mulai dari Islam, Katolik hingga Protestan. Baginya, toleransi bukan sekadar slogan, tetapi praktik hidup sehari-hari yang terus dirawat dalam keluarga besar mereka.(humas/anna).
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....