Sinode GMIT Aksi Bantuan Sosial Korban Tanah Longsor
- 18 Mei 2026 13:45 WIB
- Kupang
RRI.DO.ID, Kupang – Dalam rangka meringankan beban masyarakat Korban bencana alam tanah longsor, Majelis Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) bertempat di Jemaat Getsemani Oepopon, Klasis Amabi Oefeto Timur Kabupaten Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melakukan aksi bantuan sosial berupa beras, telur, dan minyak goring.
Bencana pergerakan tanah di Dusun II Oepopon, Desa Oeniko, sebenarnya telah terdeteksi sejak Desember 2025. Namun, intensitasnya meningkat drastis pada Selasa, 24 Februari 2026, dan mencapai puncaknya pada April 2026 dengan munculnya patahan besar pada struktur tanah.
Dampak dari bencana ini meliputi Fasilitas Umum: Gedung Gereja Getsemani Oepopon, Rumah Pastori, dan gedung Posyandu mengalami kerusakan berat; Pemukiman: 26 rumah warga di RT 04/RW 02 rusak sedang hingga berat; Sektor Pertanian: Lahan pertanian warga hancur akibat pergeseran tanah.
Mengingat kondisi tanah yang terus bergerak, Wakil Ketua Sinode GMIT, Pdt. Saneb Y. Ena Blegur, menekankan pentingnya pemetaan jemaat dalam radius bencana guna memastikan mereka berada di zona aman. Majelis Sinode GMIT berencana melakukan audiensi dengan Pemerintah Kabupaten Kupang untuk membahas relokasi pemukiman ke area yang lebih stabil.
Namun, rencana relokasi ini menghadapi tantangan emosional dan administrative, yakni warga merasa berat meninggalkan kampung halaman yang memiliki nilai historis, sosial, dan budaya, termasuk keberadaan makam leluhur. Selain itu, lokasi yang sempat ditunjuk dalam rapat internal desa berada di kawasan hutan, sehingga memerlukan koordinasi legalitas lahan.
Pdt. Ekawati Wacana Nenobais-Lily, menggambarkan kondisi rumah ibadah yang sangat memprihatinkan. “Kerusakan yang sangat signifikan terjadi di ruang gereja. Antara tempat duduk jemaat dan mimbar sudah terpisah, temboknya terbelah dari atap hingga ke dasar, dan posisinya miring. Rumah pastori yang baru dibangun dua tahun lalu pun mengalami hal serupa karena dinding tebing di belakangnya ambruk,” kata Pdt. Ekawati, Senin 11/5/2026.
Meski gedung gereja dalam kondisi miring dan retak, jemaat diketahui masih menggunakan fasilitas tersebut untuk beribadah. Kondisi geografis Oepopon yang berbukit-bukit dengan posisi gereja di kaki bukit serta banyaknya aliran air di bawah permukaan tanah menjadi perhatian serius bagi tim teknis dalam memantau pergerakan tanah di masa mendatang. Jemaat melalui Pdt. Philips A.S. Suan mengharapkan adanya bantuan lanjutan berupa rumah layak huni, perbaikan akses jalan, dan fasilitas penerangan di lokasi yang lebih aman.(humas/anna).
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....