Tugu Pembatas Kota Simbol Pemersatu Masyarakat Dua Wilayah

  • 06 Mei 2026 15:18 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID,Kupang – Tokoh masyarakat Fatukoa, Daniel Boen Balan, menegaskan, keberadaan tugu batas antara Kota Kupang dan Kabupaten Kupang di kelurahan Fatukoa bukan sebagai pemisah antarwilayah, melainkan sebagai simbol pemersatu masyarakat di dua wilayah. “Ini bukan sebuah pembatas untuk memisahkan kita warga Fatukoa dengan warga Desa Oelomin, melainkan sebuah penegasan simbolis untuk menyatukan,” Kata Daniel Boen Balan, Selasa 5/5/2026. Menurutnya, batas wilayah baik secara fisik maupun administratif menjadi pedoman dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang lebih tertib serta meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

Tokoh masyarakat Fatukoa, Daniel Boen Balan juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak, termasuk pemerintah, aparat, tokoh adat, dan masyarakat yang telah berkontribusi melalui koordinasi, musyawarah, dan semangat kebersamaan hingga tugu tersebut dapat diresmikan. “ Perlu kami sampaikan bahwa tugu ini dibangun secara swadaya oleh RT 23 bersama masyarakat. Dengan berdirinya tanda batas ini, kami berharap ada kepastian wilayah, sinergi pembangunan, serta persatuan. Mari kita jaga batas ini sebagai simbol kerja sama, bukan sekat pemisah,” ungkapnya.

Sementara itu Wali Kota dr. Christian Widodo memberikan apresiasi kepada masyarakat yang telah membangun tugu tersebut secara swadaya. Ia menilai, Tugu Pilu Tuan bukan sekadar bangunan fisik, tetapi memiliki makna simbolis sebagai perekat hubungan antara warga Kota Kupang dan Kabupaten Kupang.“Tugu ini bukan hanya bangunan, tetapi simbol kebersamaan, cinta, dan sejarah antara warga Kota Kupang dan Kabupaten Kupang,” ungkapnya.

Wali Kota dr. Christian Widodo Wali Kota Kupang mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga persatuan dalam keberagaman. Ia menekankan bahwa harmoni dalam kehidupan bermasyarakat tercipta dari keseimbangan, bukan keseragaman. “Kita berbeda-beda, tapi punya tujuan yang sama, yaitu membangun Kota Kupang menjadi lebih baik. Harmoni itu bukan sama, tapi seimbang,” ungkapnya.(humas/anna).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....