Harga Fantastis Picu Penyelundupan Komodo dari NTT

  • 21 Apr 2026 08:10 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang – Nilai ekonomi fantastis di pasar gelap internasional menjadi pemicu utama maraknya penyelundupan Komodo dari Nusa Tenggara Timur. Harga jual bayi Komodo yang mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah membuat pelaku berani mengambil risiko hukum berat.

Kepala Balai Besar KSDA NTT, Adhi Nurul Hadi via telpon pada Selasa, 21 April 2026 di Pro 1 RRI Kupang mengatakan, tingginya permintaan dari kolektor luar negeri memperkuat jaringan perdagangan ilegal satwa. "Permintaan tinggi dengan harga fantastis membuat pelaku tergiur, sehingga berbagai cara dilakukan untuk meloloskan Komodo ke pasar internasional," ujarnya.

Ia menjelaskan disparitas harga antara daerah asal dengan pasar internasional menjadi tantangan besar dalam upaya pengawasan. Menurutnya, perbedaan harga yang sangat jauh mendorong pelaku untuk terus mencari celah dalam sistem pengamanan yang ada.

Adhi mengungkapkan jaringan kriminal sering menyasar masyarakat lokal yang mengalami kesulitan ekonomi sebagai perantara di lapangan. "Iming-iming keuntungan besar membuat masyarakat rentan dimanfaatkan untuk mengambil bayi Komodo langsung dari habitat aslinya," katanya.

Dukungan modal dari jaringan besar memungkinkan sindikat menjalankan operasi penyelundupan secara terorganisir dan profesional. Pelaku juga memanfaatkan jalur pengiriman tertentu untuk menghindari pengawasan petugas di pelabuhan kecil maupun wilayah terpencil.

Pemerintah terus memperkuat kerja sama dengan Interpol guna memutus jaringan perdagangan satwa ilegal lintas negara. Selain penegakan hukum, pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar kawasan konservasi dinilai penting untuk mencegah keterlibatan warga.

Pengawasan di pintu keberangkatan internasional semakin diperketat dengan dukungan teknologi deteksi modern oleh aparat terkait. Melalui langkah terpadu, diharapkan perdagangan ilegal Komodo dapat ditekan demi menjaga kelestarian satwa endemik kebanggaan Indonesia. (DB)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....