Penyuluh Hindu NTT Tegaskan Kualitas Ngaben sebagai Wujud Bakti
- 25 Feb 2026 04:57 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang – Penyuluh Agama Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara Timur, I Gusti Ayu Sukarmiasih, mengajak umat Hindu memahami makna filosofis Pitra Yadnya secara mendalam. Hal itu penting agar pelaksanaan upacara tidak berhenti pada aspek seremonial semata tapi pada kualitasnya.
“Upacara Pitra Yadnya atau yang sering dikenal sebagai Ngaben bukan sekadar tradisi, melainkan wujud bhakti dan pembayaran hutang jasa kepada orang tua serta leluhur. Esensi pitra yadnya terletak pada ketulusan hati keluarga yang ditinggalkan,” ujar I Gusti Ayu Sukarmiasih di Pro1 RRI Kupang, Rabu, 25 Februari 2026.
Secara etimologi menurut Ayu, Pitra berarti leluhur atau orang tua, sedangkan Yadnya bermakna persembahan suci yang tulus ikhlas. Pitra Yadnya merupakan implementasi Pitra Rna, yakni hutang budi kepada orang tua yang telah melahirkan, membesarkan, dan mendidik anak-anaknya.
Dalam kitab suci Manawa Dharmasastra disebutkan bahwa jasa orang tua tidak dapat terbalaskan sepenuhnya. Karena itu, penghormatan terakhir melalui doa-doa suci menjadi bentuk bakti yang utama bagi keselamatan atman.
“Sering muncul kekeliruan bahwa Pitra Yadnya harus dilaksanakan secara mewah, padahal dalam ajaran Hindu dikenal tingkatan Nista, Madya, dan Utama yang disesuaikan kemampuan. Besar kecilnya upacara bukan ukuran utama keberhasilan yadnya,” ujarnya.
Menurutnya, kualitas jauh lebih penting daripada kuantitas dalam pelaksanaan Pitra Yadnya. Ketulusan hati serta doa yang dipanjatkan keluarga menjadi kekuatan spiritual yang mengantarkan atman menuju ketenangan.
Melalui pemahaman yang benar, umat Hindu diharapkan mampu melaksanakan Pitra Yadnya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Dengan demikian, nilai luhur penghormatan kepada leluhur tetap terjaga sesuai ajaran dharma. (ST)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....