Kecepatan Angin Capai 38 Knot Perkuat Potensi Gelombang

  • 17 Feb 2026 21:09 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Pola angin di wilayah Nusa Tenggara Timur umumnya bergerak dari barat hingga barat laut dengan kecepatan berkisar 8 hingga 38 knot. Kondisi ini berpotensi meningkatkan tinggi gelombang laut di sejumlah wilayah perairan pada Rabu, 18 Februari 2026.

“Kecepatan angin tertinggi terpantau di sejumlah wilayah perairan, antara lain Selat Sape, perairan sekitar Taman Nasional Komodo, perairan Labuan Bajo, perairan Flores, perairan selatan Alor–Pantar dan Selat Flores–Lamakera,” kata Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Tenau Kupang Yandri Anderudson Tungga di Kupang, Senin, 16 Februari 2026.

Yandri menambahkan Adapun wilayah lain seperti Selat Pantar, Selat Alor, Selat Sumba, Laut Sawu, Selat Ombai, perairan selatan Sumba, perairan Sabu–Raijua, perairan utara Kupang–Rote, Selat Pukuafu, serta perairan selatan Timor–Rote juga mengalami kondisi yang sama.

“Kami minta masyarakat mewaspadai kemunculan awan Cumulonimbus, yakni awan gelap menyerupai bunga kol. Awan ini dapat meningkatkan tinggi gelombang laut serta memicu perubahan arah dan kecepatan angin secara signifikan dan terjadi secara tiba-tiba,” lanjutnya.

BMKG memprakirakan gelombang laut kategori sedang dengan ketinggian lebih dari 1,25 hingga 2,5 meter berpotensi terjadi di sejumlah perairan NTT pada 18 Februari 2026. Wilayah yang berpotensi terdampak meliputi Selat Sape, perairan Flores, Selat Flores–Lamakera, perairan selatan Alor–Pantar, Selat Sumba, Laut Sawu, Selat Ombai, perairan Sabu–Raijua, serta perairan utara Timor.

“Potensi gelombang sedang juga diprakirakan terjadi di perairan utara Kupang–Rote, Selat Pukuafu, serta perairan sekitar kawasan konservasi Taman Nasional Komodo. Kondisi ini perlu menjadi perhatian bagi aktivitas pelayaran, nelayan tradisional, serta operator transportasi laut,” ujar Yandri.

Secara umum, peningkatan gelombang dipengaruhi oleh penguatan angin di wilayah perairan terbuka serta dinamika atmosfer regional. Kondisi ini lazim terjadi pada periode perubahan pola angin musiman di wilayah Nusa Tenggara Timur.

BMKG mengimbau masyarakat pesisir, nelayan, dan operator transportasi laut untuk selalu memantau perkembangan informasi cuaca dan gelombang laut terkini. Masyarakat juga diminta menyesuaikan aktivitas pelayaran dengan kondisi cuaca guna meminimalkan risiko kecelakaan laut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....