HIMPSI NTT Ajak Masyarakat Peka Kesehatan Mental Anak
- 09 Feb 2026 16:37 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID,Kupang - Kasus kematian tragis seorang anak kelas IV SD di Kabupaten Ngada, NTT, ditemukan meninggal dunia pada Kamis (29/1/2026), telah menyisakan duka mendalam sekaligus menjadi alarm keras bagi masyarakat mengenai pentingnya kepekaan terhadap kesehatan mental anak sejak dini. Peristiwa ini menunjukkan bahwa beban emosional yang berat tidak hanya milik orang dewasa, namun juga bisa menghimpit jiwa anak-anak yang seringkali terlihat ceria namun menyimpan luka yang tak terucap.
Pengurus Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) wilayah NTT, Zerlinda Kristin Adianaman, S.Psi, M.Psi, dalam wawancaranya pada Sabtu, 7 Februari 2026 di Pro2 RRI Kupang, menekankan bahwa keputusan ekstrem pada anak tidak pernah terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui proses panjang kesedihan yang tidak terbaca. Zerli sapaannya, menjelaskan bahwa pada usia 9 hingga 10 tahun, anak-anak mulai memahami permanensi kematian, namun belum memiliki kematangan kognitif untuk memikirkan solusi alternatif di luar pemikiran "hitam-putih" saat menghadapi masalah.
"Hal ini menjadi pengingat bahwa anak itu tidak pernah tiba-tiba memilih jalan yang ekstrem; biasanya sudah ada proses panjang kesedihan yang tidak terbaca atau kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi," ujar Zerli dalam sesi wawancara tersebut.
Secara klinis, tanda-tanda stres pada anak dapat dikenali melalui perubahan perilaku yang konsisten selama lebih dari dua minggu, seperti penurunan prestasi, menarik diri dari lingkungan, hingga perubahan pola tidur atau nafsu makan. Kepekaan lingkungan, terutama orang tua sebagai figur lekat, sangat krusial karena anak-anak cenderung meniru cara orang dewasa di sekitarnya dalam meregulasi emosi dan menghadapi tekanan hidup.
Kondisi ekonomi yang sulit dan kerentanan terhadap perundungan (bullying) di sekolah seringkali menjadi faktor risiko tambahan yang memperberat beban psikologis anak di wilayah NTT. Oleh karena itu, diperlukan perlindungan berlapis yang melibatkan sinergi antara pola asuh yang suportif di rumah, guru yang terlatih mendeteksi stres di sekolah, serta akses layanan kesehatan mental yang mudah dijangkau masyarakat.
"Mari kita bersama-sama melindungi anak-anak kita yang berada dalam situasi rentan; sebagai orang dewasa, kita harus hadir lebih peka, peduli, dan membuka ruang untuk mendengarkan mereka," pesan Zerli sebagai penutup refleksinya.
Pemerintah dan organisasi profesi seperti HIMPSI NTT terus berupaya memperluas jangkauan tenaga psikolog hingga ke tingkat Puskesmas agar bantuan profesional tidak lagi sulit diakses oleh masyarakat di daerah terpencil. Dengan meningkatkan literasi kesehatan mental, diharapkan tidak ada lagi suara-suara kecil yang terabaikan, dan setiap anak mendapatkan haknya untuk tumbuh dalam lingkungan yang aman secara emosional. (AK)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....