Tenun Tradisional TTS Hadapi Tantangan Industri Tekstil Modern
- 07 Feb 2026 15:13 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang: Kain tenun bukan sekadar pakaian bagi masyarakat Timor Tengah Selatan (TTS), melainkan identitas yang sarat akan filosofi. Namun, di tengah gempuran benang sintetis dan pewarna kimia, keberadaan tenun warna alam asli TTS kini menghadapi tantangan serius.
James Kase, seorang praktisi dan pemerhati tenun warna alam TTS, berbagi perspektif mendalam mengenai sejarah, nilai, hingga ancaman yang dihadapi kerajinan tangan legendaris ini. Menurutnya tradisi menenun di TTS memiliki sejarah panjang, dimana sebelum abad ke-12, masyarakat Timor menggunakan cawat dari kulit kayu (Nunfau), namun masuknya pedagang dari Cina dan India membawa pengaruh teknik dan motif, seperti motif Patola dari India yang beradaptasi menjadi motif lokal yang khas.
Kain tenun di TTS terbagi dalam tiga wilayah besar yaitu Amanuban, Amanatun, dan Molo. Masing-masing memiliki karakteristik unik, mulai dari teknik Futus (ikat), Lotis (ungkit), hingga Buna (sulam). Ada pula teknik yang sangat langka dan rumit bernama Naisa, yang menyerupai teknik pembuatan karpet Persia.
Warna asli tenun TTS sebenarnya cenderung lembut (soft) dan membumi, jauh dari kesan "gonjreng" atau kontras yang sering terlihat pada tenun modern berbahan kimia. Warna-warna ini didapat dari alam, seperti warna biru yang berasal dari tanaman Nila atau Tarum, merah bata dari akar Mengkudu, serta kuning dari kulit kayu nangka atau kunyit.
Adapun proses pewarnaan alam membutuhkan waktu 1,5 hingga 3 bulan sebelum penenun mulai bekerja. Akibatnya, banyak penenun beralih ke benang toko yang praktis namun kualitasnya di bawah bahan alam karena tidak bisa dicuci dan warnanya cepat pudar.
"Tanaman Tarum sering dianggap gulma oleh petani karena kurangnya informasi. Padahal, itu adalah bahan baku utama warna biru alami yang ramah lingkungan dan aman bagi kulit," ujar James.
Meski rumit, tenun warna alam memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi, bisa mencapai dua kali lipat harga tenun sintetis. Ia juga mendorong revitalisasi melalui kelompok-kelompok kecil untuk menjadi trendsetter penggunaan warna alam yang kini mulai diminati pasar fashion kelas atas karena kesan eksklusif dan ramah lingkungan.
"Harapan saya, tenun TTS kembali dikenal dengan warna aslinya yang lembut dan membumi, sekaligus meningkatkan ekonomi para penenun rumah tangga tanpa menghilangkan jati diri mereka sebagai orang Atoni," pungkasnya. (JR)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....