Dukungan Keluarga di Tengah Budaya Patriarki

  • 06 Feb 2026 12:56 WIB
  •  Kupang

RRI.CO,ID,Kupang-Keluarga memiliki peran penting dalam menjaga dan membentuk kesejahteraan mental perempuan, khususnya anak perempuan, di tengah budaya patriarki yang masih kuat memengaruhi relasi sosial dan peran gender. Dalam lingkungan yang kerap menempatkan perempuan pada posisi subordinat, keluarga dapat menjadi ruang pertama yang menentukan apakah anak perempuan tumbuh dengan rasa aman atau justru memendam tekanan emosional.

Hal tersebut disampaikan Irene Grace Madah, Senior Project Officer Yayasan Jaringan Peduli Masyarakat (JPM), dalam obrolan Akamsi bersama Pro 4 RRI Kupang, Kamis, 5 Februari 2026. Ia menegaskan bahwa keluarga bukan hanya unit sosial terkecil, tetapi juga support system utama bagi kesehatan mental anak perempuan sejak usia dini.

Menurut Irene, pola relasi yang suportif di dalam keluarga—seperti komunikasi yang terbuka, sikap saling menghargai, dan pembagian peran yang adil—membantu anak perempuan mengenali emosi, mengekspresikan pendapat, serta membangun kepercayaan diri tanpa rasa takut atau bersalah. Lingkungan keluarga yang aman secara emosional menjadi fondasi penting bagi terbentuknya nilai diri yang sehat.

Irene menjelaskan, ketika keluarga mampu menghadirkan dukungan emosional yang konsisten, anak perempuan akan tumbuh dengan pemahaman bahwa perasaan dan kebutuhannya layak dihargai. Hal ini menjadi bekal penting bagi kesehatan mental mereka dalam menghadapi tekanan sosial yang kerap muncul akibat norma patriarki di ruang yang lebih luas.

Lebih lanjut, Irene menekankan bahwa upaya menjaga kesejahteraan mental perempuan tidak dapat dibebankan sepenuhnya pada individu. Perubahan cara pandang harus dimulai dari lingkungan terdekat, yakni keluarga, sebagai tempat pertama anak perempuan belajar tentang relasi yang sehat, batasan diri, dan penghargaan terhadap martabat manusia.

Ia berharap, keluarga dapat menjadi ruang yang menguatkan, bukan menekan, serta mampu memutus pola-pola patriarki yang merugikan. Dengan dukungan keluarga yang empatik dan inklusif, kesejahteraan mental anak perempuan dapat terjaga, sekaligus membuka jalan bagi terciptanya generasi perempuan yang percaya diri dan berdaya. (TT)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....