Upaya Generasi Peduli Sabu Raijua Jaga Identitas Budaya
- 06 Feb 2026 04:34 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang- Di tengah derasnya arus modernisasi dan globalisasi, tantangan dalam menjaga jati diri budaya lokal menjadi semakin berat. Namun, Yayasan Generasi Peduli Sabu Raijua (GPS) terus konsisten melakukan berbagai gebrakan untuk memastikan warisan leluhur Sabu Raijua tidak punah ditelan zaman.
Dalam program "Obrolan Akamsi" di RRI Pro 4 Kupang, Senin, 2 Februari 2026, pemerhati budaya Sabu sekaligus perwakilan dari Yayasan GPS, Jefrison H. Fernando, memaparkan visi dan upaya nyata yang telah dilakukan yayasan tersebut sejak berdiri sebagai komunitas pada tahun 2015. Salah satu fokus utama Yayasan GPS adalah pendokumentasian budaya dan tradisi adat di Sabu.
Budaya Sabu dikenal sebagai budaya tutur (lisan), yang sangat rentan hilang jika para tetua adat atau pemangku adat meninggal dunia tanpa adanya catatan tertulis maupun visual. "Jika tidak ada pendokumentasian baik secara audio-visual maupun buku, maka budaya tersebut akan hilang seiring perginya para tetua. Itulah mengapa dokumentasi menjadi hal yang sangat urgen," ujarnya.
GPS aktif memproduksi video dokumenter serta menulis referensi budaya agar dapat diakses oleh generasi mendatang. Yayasan GPS menyadari bahwa pelestarian harus dimulai sejak dini, dan melalui wadah bernama Rumah Inspirasi, GPS membina anak-anak muda melalui sanggar tari, musik, dan teater.
Selain itu, GPS telah menjalankan program Pameran Cerita Rakyat selama empat tahun terakhir, dimana program ini mendorong anak-anak sekolah untuk mencari, menuturkan, dan menuliskan kembali cerita rakyat Sabu. Upaya ini bertujuan untuk meningkatkan literasi budaya sekaligus memotivasi generasi muda agar bangga dengan akar budaya mereka.
Hal yang menarik adalah perhatian GPS terhadap penghayat kepercayaan Jingitiu, agama lokal asli Sabu. Yayasan ini memfasilitasi pendokumentasian struktur adat Jingitiu dan membantu pembuatan bahan ajar bagi anak-anak penghayat di sekolah-sekolah.
GPS juga memberikan dukungan bagi pemuda Jingitiu untuk menempuh pendidikan tinggi di bidang pendidikan kepercayaan, agar nantinya mereka dapat kembali dan mengajar sebagai guru penghayat yang memiliki legalitas resmi. Bagi GPS, penganut Jingitiu berperan penting sebagai penyeimbang ekologi dan penjaga alam Sabu Raijua.
Ke depan, Yayasan GPS telah merencanakan sebuah perhelatan akbar pada tahun 2026 ini. Dengan dukungan Dana Indonesiana (LPDP), mereka akan menggelar festival seni, pameran literasi, dan pameran pangan lokal.
Pameran pangan lokal ini bertujuan mengedukasi masyarakat untuk kembali mencintai makanan sehat dari alam, seperti sorgum, kacang hijau, dan gula Sabu, sekaligus mendorong sektor ekonomi kreatif dan pariwisata di Sabu Raijua. Menutup obrolannya, Jefrison H. Fernando menekankan bahwa budaya bukan sekadar masa lalu, melainkan investasi masa depan.
"Budaya adalah jati diri satu bangsa. Melalui GPS, kami berkolaborasi dengan semua pihak agar kekayaan budaya ini menciptakan efek domino, baik untuk kemajuan sosial-ekonomi maupun pariwisata di Nusa Tenggara Timur," pungkasnya. (JR)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....