Program OSOP Perkuat Pembelajaran Berbasis Produksi di SMK
- 02 Feb 2026 13:25 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang: Program One School One Product (OSOP) yang dicanangkan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur dinilai menjadi langkah strategis dalam mendorong penguatan kompetensi lulusan sekolah kejuruan sekaligus menumbuhkan jiwa kewirausahaan sejak dini. Program ini diharapkan mampu menghubungkan dunia pendidikan dengan kebutuhan industri dan pasar kerja.
Hal tersebut disampaikan Plt. Kepala Sekolah SMK Negeri 2 Kupang, Yohanis Kalvin Lomi, S.Pd, saat diwawancarai RRI terkait pelaksanaan program OSOP di sekolahnya. Ia menilai OSOP sebagai program yang sangat relevan bagi SMK karena mendorong pembelajaran berbasis produksi dan kewirausahaan.
Menurut Yohanis, SMK Negeri 2 Kupang mengembangkan produk unggulan sesuai dengan kompetensi keahlian yang dimiliki setiap jurusan. Salah satunya berasal dari kompetensi keahlian teknik pengelasan dan fabrikasi logam, seperti pembuatan pagar, kanopi, dan tralis besi yang dikerjakan secara kolaboratif antara guru dan siswa serta terintegrasi dalam proses pembelajaran.
Ia menjelaskan, praktik produksi tersebut tidak hanya berorientasi pada penilaian akademik, tetapi juga menghasilkan produk bernilai ekonomis yang dapat dipasarkan sesuai kebutuhan konsumen. Bahkan, SMK Negeri 2 Kupang mengarah pada konsep satu jurusan satu produk, sehingga satu sekolah dapat memiliki lebih dari satu produk unggulan.
Namun demikian, dalam pelaksanaan OSOP terdapat sejumlah tantangan utama yang dihadapi, yakni keterbatasan sumber daya manusia, sarana dan prasarana, serta pendanaan. Dari sisi SDM, perubahan pola pikir guru dari pembelajaran konvensional ke pembelajaran berbasis produksi dan kewirausahaan menjadi tantangan tersendiri, ditambah dengan beban kerja guru yang cukup tinggi.
Untuk mengatasi hal tersebut, pihak sekolah secara bertahap melakukan peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan, termasuk penguatan kemampuan kewirausahaan dan pemahaman industri. Selain itu, produksi dilakukan secara terbatas dengan memanfaatkan peralatan yang tersedia sambil melihat respons pasar terhadap produk yang dihasilkan.
Yohanis menambahkan, dampak positif OSOP mulai dirasakan, baik oleh guru maupun siswa. Guru terdorong untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai jual dan daya saing, sementara siswa menjadi lebih aktif dalam proses pembelajaran. Ke depan, pihak sekolah berharap program OSOP semakin relevan dengan kebutuhan industri, mampu meningkatkan kualitas dan branding produk, serta mencetak lulusan SMK yang siap bekerja, melanjutkan studi, maupun berwirausaha.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....