Bibit Siklon 98P Melemah, Waspada Dampak Cuaca NTT
- 02 Feb 2026 06:48 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan Bibit Siklon Tropis 98P terdeteksi pada 29 Januari 2026 di wilayah monitoring Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta. Berdasarkan analisis BMKG pada Minggu, 1 Februari 2026, pusat sirkulasi sistem berada di sekitar 16,7 derajat Lintang Selatan dan 130,7 derajat Bujur Timur, tepatnya di daratan Australia bagian utara.
“Kecepatan angin maksimum yang terpantau mencapai 15 knot atau sekitar 27 kilometer per jam, dengan tekanan udara minimum 1008 hPa. Analisis citra satelit dalam 6 hingga 12 jam terakhir menunjukkan aktivitas konvektif yang fluktuatif dan cenderung menurun, meski masih terpantau awan tebal dan konveksi dalam di sebagian wilayah tenggara dan barat daya sistem, serta awan konvektif di wilayah NTT bagian Selatan,” kata Ketua Tim Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca Khusus, Miming Saepudin di Jakarta, Minggu (1/2/2026).
Ia melanjutkan Bibit Siklon Tropis 98P didukung sejumlah faktor lingkungan seperti aktifnya gelombang equatorial Rossby, low frequency, dan Kelvin, kelembapan udara yang cukup basah. Namun, perkembangan sistem terhambat oleh vertical wind shear kategori sedang hingga kuat, lemahnya konvergensi dan divergensi udara, potensi intrusi udara kering, serta lokasi sistem yang berada di daratan.
“BMKG memprakirakan dalam 24 jam ke depan intensitas Bibit Siklon Tropis 98P cenderung menurun, ditandai dengan berkurangnya kecepatan angin maksimum menjadi sekitar 5 hingga 15 knot dan bergerak perlahan ke arah timur. Dalam 48 jam ke depan, sirkulasi sistem diperkirakan semakin melebar dan menghilang, sehingga peluang berkembang menjadi siklon tropis dalam 24 hingga 72 jam ke depan berada pada kategori rendah,” lanjut Miming.
Meski demikian, Bibit Siklon Tropis 98P masih memberikan dampak tidak langsung terhadap cuaca dan perairan Indonesia hingga 2 Februari 2026. Dampak tersebut meliputi potensi hujan sedang hingga lebat dan angin kencang di wilayah NTT, Maluku Barat Daya, dan Kepulauan Tanimbar, serta gelombang laut kategori sedang hingga tinggi di sejumlah perairan selatan Indonesia, termasuk Laut Sawu dan Laut Arafuru.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....