Cuaca Ekstrem Masih Mengancam Perairan Meski Luana Berakhir
- 27 Jan 2026 11:48 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Siklon tropis Luana yang sempat menjadi perhatian masyarakat di wilayah Nusa Tenggara Timur kini secara resmi dinyatakan sudah tidak aktif lagi oleh pihak BMKG setelah sebelumnya terbentuk di dekat daratan Benua Australia. Meskipun sistem tersebut telah menghilang, warga tetap diminta untuk tidak lengah karena adanya kemunculan sistem tekanan rendah baru di wilayah Teluk Karpentaria yang berpotensi membawa pengaruh cuaca buruk secara signifikan.
Tekanan rendah yang baru muncul di bagian utara Australia saat ini menjadi faktor utama yang memicu terjadinya hujan lebat serta hembusan angin kencang di beberapa wilayah kepulauan Nusa Tenggara Timur. Fenomena meteorologi ini merupakan hal yang wajar mengingat periode antara bulan Desember hingga April merupakan siklus tahunan terjadinya pertumbuhan bibit siklon tropis di wilayah perairan selatan Indonesia.
Stasiun Meteorologi Maritim Tenau Kupang mengeluarkan peringatan dini terkait potensi tinggi gelombang yang dapat mencapai 2,5 meter di sejumlah titik perairan strategis seperti Selat Flores dan Selat Alor. Pihak prakirawan mengimbau agar para operator kapal kecil maupun kapal tongkang selalu meningkatkan kewaspadaan ekstra mengingat ketinggian gelombang tersebut sudah masuk dalam kategori sangat berisiko bagi keselamatan pelayaran.
Ketinggian gelombang ekstrem yang diprediksi mampu menembus angka 4 meter kemungkinan besar akan melanda wilayah perairan Laut Sawu serta wilayah selatan Timor dan Rote dalam beberapa hari ke depan. Ancaman bahaya ini tidak hanya berlaku bagi perahu nelayan tradisional saja, namun juga sangat membahayakan operasional kapal feri yang melayani rute penyeberangan antarpulau di seluruh wilayah Nusa Tenggara Timur.
Masyarakat yang beraktivitas di sekitar garis pantai dan para pelaku usaha jasa transportasi laut sangat disarankan untuk terus memantau pembaruan informasi cuaca harian yang dirilis secara resmi oleh pihak BMKG. Hal ini sangat krusial dilakukan karena kondisi atmosfer di wilayah perairan saat ini bersifat sangat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu dengan sangat cepat akibat adanya pergerakan sistem tekanan udara.
Pihak otoritas pelayaran diimbau untuk mempertimbangkan kembali izin keberangkatan kapal jika kondisi gelombang di jalur lintasan yang akan dilalui dinilai terlalu berbahaya bagi keselamatan nyawa para penumpang. Sinergi antara penyedia informasi cuaca dengan para nahkoda kapal menjadi kunci utama untuk mencegah terjadinya kecelakaan laut yang seringkali terjadi akibat kurangnya antisipasi terhadap anomali cuaca musim barat.
Prakirawan Maritim Suratmi Hamida menegaskan bahwa potensi pertumbuhan bibit siklon tropis yang baru masih akan tetap tinggi hingga memasuki bulan April mendatang sesuai dengan catatan historis iklim di kawasan selatan. Oleh karena itu, kesiapan sarana penyelamatan di atas kapal harus selalu dipastikan dalam kondisi berfungsi dengan baik guna menghadapi situasi darurat yang mungkin muncul secara tiba-tiba di tengah lautan luas.
Kehadiran siklon tropis di masa depan diprediksi akan terus bergantian muncul karena dukungan suhu muka laut yang cukup hangat di sekitar wilayah perairan Samudra Hindia yang berbatasan langsung dengan Nusa Tenggara Timur. Dengan tetap mengikuti arahan dari pihak berwenang, diharapkan seluruh aktivitas maritim di provinsi kepulauan ini dapat berjalan dengan lancar tanpa adanya kendala berarti meskipun cuaca sedang berada dalam kondisi kurang bersahabat. (AN)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....