Festival Pakariang 2025 Gaungkan Semangat Permainan Tradisional Anak
- 08 Nov 2025 21:59 WIB
- Kupang
KBRN, Kupang : Setelah delapan tahun vakum, Festival Pakariang kembali digelar dengan meriah di OCD Beach Café Lasiana, Kota Kupang, pada Sabtu (8/11/2025). Kegiatan yang telah terselenggara untuk ketiga kalinya ini sukses menghadirkan suasana penuh tawa dan kebersamaan melalui beragam permainan tradisional yang dikemas secara edukatif bagi anak-anak dan keluarga.
Dalam wawancara bersama RRI pada Jumat (7/11/2025), Koordinator Festival Pakariang 2025, Yedi Letedara mengungkapkan festival ini mengusung tema, “Pakariang : Pesta Kreativitas dan Permainan Tradisional Anak Kupang”. Yang mempunyai makna merayakan kebersamaan dengan kreativitas anak-anak yang semuanya akan lebur menjadi satu, serta menjadi satu perayaan bersama.
Yedi Letedara, menyatakan kegiatan ini dihelat sebagai upaya kolektif untuk membangkitkan kembali memori dan kegembiraan bermain permainan tradisional, sekaligus menyediakan ruang aman bagi anak-anak Kupang untuk berkreasi, belajar, dan bersosialisasi. Menariknya Festival Pakariang juga mendapat dukungan pendanaan dari Badan Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVI NTT yang menjadi penanda apresiasi terhadap nilai-nilai budaya lokal.
“Harapannya dengan adanya Festival Pakariang 2025 dapat menciptakan ruang bermain dan belajar yang menyenangkan, serta mempererat kebersamaan keluarga dan semangat gotong royong, yang pada akhirnya membuat anak-anak pulang dengan membawa kebahagiaan” ungkap Yedi.
Festival Pakariang 2025 tahun ini menjadi istimewa karena menghadirkan inovasi baru dan kolaborasi lintas komunitas. Yedi menyebutkan festival Pakariang 2025 bekerjasama dengan komunitas Tuli Kupang, Bank Sampah Mutiara Timur, Komunitas Bapalok yang menghadirkan pangan lokal NTT, CSCD, FoR PKBI NTT, Mentalmate.Id, Bacarita NTT, Tenggara Youth dan komunitas lainnya.
Sementara Divisi Program Festival Pakariang, Elsie Grazia, menyampaikan kegiatan tahun ini menjadi bentuk nyata upaya menghadirkan ruang bermain dan belajar yang sehat bagi anak-anak Kupang. Berbagai aktivitas seru turut mewarnai festival, mulai dari permainan tradisional seperti congklak, balap ban, dan egrang, hingga kegiatan edukatif seperti memilah sampah, belajar bahasa isyarat, dan memasak pangan lokal.
Selain zona permainan, festival ini menghadirkan kegiatan-kegiatan berorientasi literasi dan kesehatan mental, layanan konsultasi dan konseling kesehatan mental bagi anak maupun orang tua, serta program literasi yang mengajak pengunjung menyumbangkan buku bekas untuk komunitas literasi. Inovasi yang paling menonjol pada edisi ini adalah sesi pembelajaran Bahasa Isyarat yang bekerja sama langsung dengan komunitas Tuli Kupang, serta pelatihan memasak bekal dari pangan lokal dan edukasi pilah sampah.
Seluruh rangkaian aktivitas permainan ini bertujuan strategis untuk menarik anak-anak agar sejenak meninggalkan gawai elektronik mereka. Guna menyegarkan suasana, festival ini juga menghadirkan face painting, lapak aksesori, hingga live mural yang memberi ruang ekspresi bagi anak-anak.
Menariknya, panitia menerapkan kebijakan bebas gadget selama festival berlangsung. Untuk memastikan fokus utama pada interaksi sosial dan permainan, panitia menerapkan aturan ketat.
Aturan sentral yang harus dipatuhi oleh semua yang hadir, baik anak-anak maupun orang tua, adalah larangan penggunaan gawai (gadget) di area bermain. Selain itu, festival ini sangat menjunjung tinggi terciptanya ruang yang aman bagi anak-anak.
Meliputi larangan memfoto anak-anak tanpa izin, larangan menyentuh anak tanpa izin, serta larangan melakukan kekerasan, berbicara kasar, dan merokok di area kegiatan, yang secara khusus disediakan tempat terpisah bagi perokok.
“Kami ingin menghadirkan ruang aman, nyaman, dan bebas dari distraksi digital,” ujar Elsie.
Meskipun kegiatan hanya digelar selama satu hari, antusiasme masyarakat dan komunitas cukup tinggi. Festival Pakariang dapat diakses secara gratis dan terbuka untuk umum dari segala usia.
Penyelenggaraan Festival Pakariang 2025 diharapkan dapat menjadi pemantik bagi inisiatif serupa di masa depan. Koordinator berharap agar festival ini dapat dipertimbangkan untuk menjadi agenda tahunan, mengingat dampak positifnya yang besar terhadap perkembangan psikososial anak dan pelestarian budaya tradisional. (AK)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....