Tradisi Hopong Ngae Wujud Syukur Panen Masyarakat Helong
- 29 Apr 2025 06:06 WIB
- Kupang
KBRN, Kupang: Masyarakat Helong di Pulau Semau, Kabupaten Kupang, kembali melaksanakan tradisi budaya tahunan mereka yang dikenal dengan nama Hopong Ngae, sebuah ungkapan syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang melimpah. Perayaan ini berlangsung penuh hikmat dan sukacita dalam ibadah di Gereja Sonaf Neka Huilelot, Desa Huilelot, Kecamatan Semau, Minggu (27/4/2025) dan turut dihadiri oleh Bupati Kupang, Yosef Lede.
Hopong Ngae, yang secara harfiah berarti “makan pertama” atau “makan baru”, merupakan simbol penghormatan masyarakat Helong terhadap berkat hasil bumi yang mereka peroleh setelah masa tanam. Dalam pelaksanaannya, tradisi ini dirangkaikan dengan ibadah syukur yang dipimpin oleh tokoh agama setempat dan diikuti seluruh warga jemaat.
Dalam sambutannya, Bupati Kupang Yosef Lede menyatakan bahwa Hopong Ngae mencerminkan karakter masyarakat yang senantiasa bersyukur dan bergantung kepada Tuhan dalam setiap proses kehidupan, termasuk dalam pertanian.
“Masyarakat Kabupaten Kupang adalah Masyarakat tau berterimakasih, terbukti dengan dilaksanakannya kegiatan HOPONG NGAE kali ini. Pada intinya bahwa Masyarakat Kabupaten Kupang mau bersyukur atas apa yang diberikan Tuhan dengan meyakini bahwa apa yang mereka tanam, Tuhan yang menumbuhkan dan merawat hingga mereka tuai,” ujar Yosef Lede.
Selain sebagai bentuk syukur, momentum Hopong Ngae juga digunakan untuk mempererat persatuan di antara warga jemaat serta mendorong semangat gotong royong dalam pembangunan, termasuk pembangunan gedung gereja baru Jemaat Sonaf Neka. Yosef Lede bahkan menantang jemaat untuk menyelesaikan pembangunan tersebut dalam waktu satu tahun, dengan janji dukungan penuh dari pemerintah daerah.
"Mengenai Pembangunan Gedung Gereja baru ini, saya tantang jemaat untuk mengerjakannya selama satu tahun saja. Kami Pemerintah tentu akan membantu, apalagi saat ini saya juga sudah merencanakan untuk dalam satu tahun itu kita hanya focus pada beberapa tempat saja yang kita bantu agar bantuan yang diberikan maksimal. Tahun berikutnya baru kita bantu di tempat lain lagi,” kata Yosef Lede dengan tegas.
Ketua Majelis Klasis Semau, Pendeta Doni Banik, menambahkan bahwa Hopong Ngae bukan sekadar tradisi budaya, tetapi juga sarana spiritual untuk menumbuhkan iman dan kepedulian sosial di tengah jemaat. “Banyak kekayaan nilai dari tadisi HOPONG NGAE yang bisa diambil jemaat untuk menumbuhkan iman jemaat dan mengembangkannya dengan selalu meperhatikan sesama agar iman semakin bertumbuh,” ucapnya.
Perayaan ini juga dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, di antaranya anggota DPRD Kabupaten Kupang Yohanis Munah dan Absalom Buy, pimpinan OPD, serta perwakilan Bank NTT Oelamasi. Hopong Ngae menjadi bukti bahwa warisan budaya lokal memiliki peran penting dalam memperkuat iman, identitas, dan kebersamaan masyarakat Helong di tengah perubahan zaman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....