Dharma: Jalan Menuju Kehidupan yang Luhur dan Bermakna
- 25 Apr 2025 08:17 WIB
- Kupang
KBRN, Kupang: Dharma, dalam ajaran Hindu, memiliki makna mendalam sebagai kebenaran dan kebajikan. Namun, pemahaman tentang apa itu kebenaran dan kebajikan kerap kali berbeda-beda di antara manusia, apalagi dalam era Kali Yuga zaman kegelapan spiritual yang diyakini hanya menyisakan 25 persen kesadaran akan Tuhan atau Dharma itu sendiri. Dalam situasi ini, memahami Dharma secara utuh menjadi sebuah tantangan sekaligus kebutuhan spiritual bagi umat manusia.
Hal ini disampaikan oleh Pancami T.S Samosir, S.Fil.HPenyuluh Agama Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi NTT dalam Mutiara Pagi Pro 1 RRI kupang, Rabu (23/5/2025). Secara etimologis, kata Dharma berasal dari akar kata Sanskerta "dhr" yang berarti menjinjing, memelihara, memangku, dan mengatur.
Dari sini, Dharma dimaknai sebagai kekuatan yang menopang keberadaan dan keteraturan dunia. Namun, makna Dharma tidak bisa dipahami hanya secara teoritis. Ia membutuhkan kerendahan hati dan ketekunan dalam menekuni ajaran-ajaran agama secara menyeluruh bulat, benar, dan utuh untuk benar-benar meresapi esensinya dalam kehidupan.
Dalam filsafat Hindu, Dharma dipandang sebagai jalan menuju kebahagiaan sejati dan pembebasan spiritual. Ia diibaratkan seperti perahu bagi para saudagar yang hendak menyeberangi samudra luas sebuah sarana penting untuk mencapai tujuan hidup yang lebih tinggi.
Konsep ini tertuang dalam ajaran Catur Purusa Artha, yakni empat tujuan utama hidup manusia menurut ajaran Hindu: Dharma (kebenaran), Artha (kemakmuran), Kama (keinginan), dan Moksa (kebebasan rohani). Dharma ditempatkan sebagai yang pertama karena ia menjadi dasar bagi tercapainya tiga tujuan lainnya.
Tanpa Dharma, pencapaian Artha, Kama, dan Moksa bisa kehilangan arah dan makna. Sebaliknya, bila Dharma dijalankan dengan sungguh-sungguh, maka ketiga tujuan tersebut akan menyusul secara alami.
Dengan demikian, Dharma bukan hanya sekadar prinsip moral, melainkan juga pondasi kehidupan yang mengarahkan manusia pada harmoni, keseimbangan, dan pencerahan spiritual. Ia adalah sarana, alat, sekaligus kompas yang menuntun manusia menuju kehidupan yang mulia dan bermakna.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....