Kenali Isyarat Ini Untuk Menolong Korban Kekerasan
- 31 Mar 2025 14:24 WIB
- Kupang
KBRN, Kupang : Kekerasan terhadap perempuan dan anak terus meningkat setiap tahun bahkan beberapa kasus tidak dilaporkan atau mendapatkan penyelesaian hukum. Sepanjang Januari hingga Oktober 2024 Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mencatat telah terjadi 1.626 kasus kekerasan seksual.
Tidak setiap korban mampu berkomunikasi secara verbal saat dalam bahaya, membuat isyarat non verbal diperlukan agar mereka mendapatkan bantuan. Beberapa negara di Eropa telah menerapkan kode atau isyarat bagi korban kekerasan untuk mendapatkan pertolongan.
1. Kode Empat Jari
Kode atau isyarat ini pertama kali diperkenalkan organisasi Canadian Women's Foundation yang membuat video tentang isyarat ini. Korban kekerasan dalam rumah tangga dapat secara diam-diam meminta bantuan tanpa diketahui pelaku atau meninggalkan jejak digital.
Tanda ini mudah dibuat oleh korban kekerasan dengan mengangkat telapak tangan sambil menghadap orang yang diajak untuk berkomunikasi. Kemudian masukkan ibu jari ke telapak tangan dan lipat jari-jari di atas ibu jari dengan gerakan "menjebak".
2. Kode Mask-19
Isyarat Mask 19 digunakan korban kekerasan untuk meminta pertolongan kepada pihak apoteker untuk dapat melapor kepada pihak berwajib. Kode ini muncul saat pandemi Covid-19 terjadi dan memicu kasus kekerasan dalam rumah tangga yang terus meningkat jumlahnya.
Saat lockdown diberlakukan jumlah KDRT di Eropa meningkat dan beberapa apotek menjadi tempat untuk layanan pengaduan kekerasan. Ketika korban tidak bebas berbicara, ia dapat mengatakan Mask-19 dan apoteker langsung mengetahui jika pengunjung tersebut sedang meminta pertolongan.
3. Kode Titik Hitam di Telapak Tangan (Black Dot)
Ketika seseorang menjadi korban kekerasan ia dapat menggambar titik hitam di telapak tangan sebagai sinyal untuk mendapatkan pertolongan. Pada tahun 2015 isyarat ini ramai dikampanyekan Facebook dan menjadi salah satu sinyal nonverbal untuk tindak kekerasan. Metode atau isyarat Black Dot juga menuai kritik karena dinilai menarik perhatian yang tidak diinginkan kepada para korban. dan berpotensi menempatkan mereka dalam bahaya yang lebih besar.
Karena dinilai kurang efektif, untuk itu sebagai tanggapan atas permintaan netizen, Facebook telah menghapus halaman kampanye tersebut. Beberapa orang menilai isyarat ini tidak dapat menjadi solusi bahkan dikatakan dapat memicu pelaku kekerasan yang melihat gambar tersebut.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....