Lailatul Qadar: Momentum "Kesempatan Kedua" bagi Insan untuk Kembali ke Fitrah

  • 13 Mar 2026 20:43 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Bulan Ramadan menjadi momentum refleksi bagi umat Islam untuk memperbaiki diri, terutama saat menantikan malam Lailatul Qadar yang diyakini lebih mulia dari seribu bulan. Malam tersebut sering dimaknai sebagai kesempatan kedua bagi manusia untuk kembali mendekatkan diri kepada Tuhan melalui ibadah dan pertobatan.

Dalam wawancara bersama RRI pada, Kamis 12 Maret 2026 di segmen siaran ramadan Pro2, Kabid TKK DPD IMM NTT, Surahbil Hasbi Sidik, menjelaskan Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momen perenungan diri. “Kalau kita bicara soal Ramadan, bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tapi juga momen perenungan perbaikan diri dan kesempatan untuk memulai kembali,” ujarnya.

Hasby menambahkan bahwa Lailatul Qadar disebut sebagai malam kemuliaan karena menjadi peristiwa turunnya Al-Qur’an sebagai pedoman hidup umat Islam. “Malam Lailatul Qadar itu artinya malam kemuliaan, karena pada malam itulah Al-Qur’an diturunkan sebagai pedoman hidup umat Islam,” katanya.

Menurutnya, kesempatan kedua yang dimaknai dalam Lailatul Qadar adalah peluang bagi manusia untuk memperbaiki hubungan dengan Tuhan dan sesama. “Selagi kita masih hidup, belum ada kata terlambat untuk memperbaiki diri dan memaksimalkan ibadah, apalagi di sepuluh malam terakhir Ramadan,” tuturnya.

Memasuki fase akhir Ramadan, umat Muslim dianjurkan untuk meningkatkan intensitas ibadah mereka guna menjemput kemuliaan tersebut. Hasbi menganalogikan tindakan Nabi Muhammad SAW yang "mengencangkan ikat pinggang" sebagai bentuk fokus totalitas dalam beribadah sejak malam ke-21 hingga malam terakhir.

Fokus utama dalam periode ini adalah memaksimalkan ikhtiar manusiawi tanpa perlu terbebani oleh kepastian kapan malam itu jatuh. Menurutnya, tugas manusia hanyalah menjalankan ibadah semaksimal mungkin, sementara keputusan mengenai penerimaan ibadah tersebut sepenuhnya merupakan hak prerogatif Allah SWT.

Hasbi mengingatkan bahwa perbaikan diri di malam Lailatul Qadar mencakup dua aspek utama, yakni hablum minallah (hubungan dengan Allah) dan hablum minannas (hubungan dengan sesama). Keduanya harus berjalan beriringan karena manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup dalam kesendirian tanpa interaksi yang baik dengan lingkungan sekitarnya.

Pesan ini sangat relevan bagi generasi muda agar tidak terjebak pada salah satu dimensi ibadah saja. Kedekatan spiritual kepada Sang Pencipta harus tercermin dalam perilaku nyata yang menebar manfaat dan kedamaian bagi orang lain di kehidupan sehari-hari. (AK)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....