Mengenal Holeshot Device, yang Kini Resmi Dilarang di MotoGP

  • 27 Jun 2026 20:18 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Regulasi teknis balap motor kasta tertinggi, MotoGP, resmi melarang total penggunaan holeshot device atau perangkat penurun ketinggian motor (ride-height device) baik untuk area depan maupun belakang. Teknologi yang sempat menjadi tren dan perdebatan sengit antar-pabrikan ini dinilai telah mencapai batas optimal yang justru berdampak negatif pada aspek keselamatan dan esensi balapan.

Langkah tegas ini diambil oleh Grand Prix Commission demi menjaga persaingan yang adil dan mengendalikan laju kecepatan motor yang kian ekstrem. Secara teknis, holeshot device adalah sistem mekanis atau hidrolik yang berfungsi untuk menurunkan pusat gravitasi motor secara instan.

Awalnya, perangkat ini diciptakan khusus untuk area belakang motor saat melakukan start (holeshot). Dengan menekan suspensi belakang hingga motor menjadi lebih ceper, efek wheelie atau ban depan terangkat akibat akselerasi brutal dapat diredam secara signifikan.

Hasilnya, pembalap bisa melesat lebih cepat dan stabil dari posisi diam menuju tikungan pertama. Seiring berjalannya waktu, para insinyur pabrikan dipelopori oleh Ducati mengembangkan teknologi ini menjadi ride height device yang bisa diaktifkan tidak hanya saat start, melainkan di setiap tikungan sepanjang balapan.

Saat keluar dari tikungan dan memasuki trek lurus, pembalap akan mengaktifkan tuas untuk menurunkan bagian belakang atau depan motor. Hal ini secara drastis meningkatkan efisiensi aerodinamika, mengurangi hambatan angin (drag), dan mendongkrak top speed motor hingga menembus batas-batas rekor baru.

Kendati menawarkan keuntungan performa yang masif, teknologi ini memicu gelombang kritik dari para pembalap dan pengamat keselamatan. Penggunaan perangkat ini membuat area pengereman menjadi sangat ekstrem dan memperkecil ruang untuk melakukan aksi salip-menyalip (overtaking), karena turbulensi udara yang dihasilkan di belakang motor menjadi sangat kacau.

Selain itu, beban fisik pembalap bertambah karena harus mengoperasikan berbagai tuas mekanis ekstra di stang motor saat melaju dalam kecepatan di atas 350 km/jam. Melalui pelarangan total ini, MotoGP berkomitmen untuk mengembalikan fokus utama balapan pada kemampuan murni sang pembalap (rider skill) dan kendali mekanis konvensional.

Keputusan ini juga diambil untuk menekan biaya riset pabrikan yang sangat tinggi dalam mengembangkan perangkat tersebut, serta menghentikan tren kecepatan puncak yang mulai dianggap membahayakan batas aman sirkuit-sirkuit modern. Kini, era motor ceper telah usai, dan para pencinta balap akan kembali disuguhkan tontonan adu mekanik dan talenta yang lebih organik di lintasan sirkuit. (RN)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....