Produksi Sampah Makanan di Indonesia Capai Puluhan Juta Ton

  • 05 Jul 2024 08:04 WIB
  •  Kupang

KBRN, Kupang : Di tengah isu ketahanan pangan global, Indonesia justru dihadapkan pada kenyataan pahit, sampah makanan yang mencapai puluhan juta ton setiap tahunnya. Ironisnya, di saat jutaan rakyat masih berjuang melawan kelaparan, terbuang sia-sia jutaan ton makanan yang seharusnya bisa dinikmati.

Data terbaru menunjukkan bahwa produksi sampah makanan di Indonesia telah mencapai puluhan juta ton. Hal ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga mencerminkan ketidakefisienan dalam sistem distribusi dan konsumsi pangan.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Suharso Monoarfa, mengungkapkan besarnya jumlah makanan yang terbuang sia-sia di Indonesia. Ia menegaskan bahwa pemborosan makanan ini bukan hanya berakibat fatal bagi ekonomi nasional, tetapi juga memperparah krisis iklim.

"Pengendalian sisa pangan atau food loss and waste jadi salah satu strategi yang dapat menekan jumlah timbunan sampah hingga separuhnya," ucapnya dikutip dari laman CNBC Indonesia Kamis, (4/7/2024).

Fenomena susut dan sisa pangan merujuk pada istilah yang lebih dikenal sebagai food loss and waste. Proses penyusutan (loss) makanan biasanya terjadi dari tahap produksi hingga distribusi. Di sisi lain, sisa (waste) makanan terjadi karena kebiasaan konsumen yang tidak menghabiskan makanan atau secara sengaja membuangnya.

Temuan Bappenas mengenai makanan yang dibuang ini dijelaskan dalam dokumen "Peta Jalan Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Dalam Mendukung Pencapaian Ketahanan Pangan Menuju Indonesia Emas 2045.

Di tengah upaya memerangi kelaparan, data PPN/Bappenas menunjukkan Indonesia kehilangan 23-48 juta ton makanan per tahun, didominasi padi-padian (44%). Buah-buahan (20%) menjadi penyumbang sampah makanan terbesar kedua, disusul sayur-sayuran (16%), ikan (9%) dan proporsi makanan berpati dan buah biji berminyak yang terbuang sama-sama sebanyak 3%.

Menariknya, meskipun merupakan sumber protein penting, daging (2%) termasuk dalam daftar sampah makanan di Indonesia. Sampah makanan dari telur, susu, minyak, dan lemak (masing-masing 1%) memiliki proporsi yang lebih kecil, melansir dari dataindonesia.id.

“Jutaan ton sampah makanan itu seharusnya dapat menghidupi 61-125 juta orang Indonesia” kata Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi.

Menyadari besarnya problematika sampah makanan, Bappenas bergerak aktif dengan merumuskan strategi komprehensif yang menjangkau seluruh rantai pasokan makanan. Strategi ini mencakup pelatihan bagi para pekerja di sektor pangan, pengembangan infrastruktur untuk meningkatkan efisiensi produksi dan distribusi, serta edukasi menyeluruh bagi konsumen. (AK)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....