538 Spesies Burung Endemik Indonesia Hadapi Ancaman Perubahan Habitat

  • 27 Jul 2026 13:06 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Sebagai salah satu negara pemangku keanekaragaman hayati burung tertinggi, Indonesia mencatat 1.834 spesies aves hingga Januari 2026. Menariknya, sebanyak 538 spesies dari total tersebut adalah burung endemik asli Indonesia.

Istilah spesies endemik sendiri digunakan untuk menyebut jenis burung yang habitat alaminya hanya berada di dalam wilayah Indonesia. Namun, keberadaan mereka tidak tersebar sama rata di tiap pulau.

Mengutip dari laman GoodStats, data Burung Indonesia, Sulawesi mencatatkan kekayaan burung endemik tertinggi di tanah air dengan jumlah mencapai 159 spesies. Kepulauan Maluku menyusul di urutan kedua dengan 117 spesies burung endemik, diikuti Jawa-Bali (80 spesies), Papua (75 spesies), dan Nusa Tenggara (62 spesies).

Sementara itu, Pulau Sumatra melengkapi daftar ini dengan catatan 54 spesies unggas berstatus endemik. Menariknya, terlepas dari statusnya sebagai pulau terbesar kedua di Indonesia setelah Papua, Kalimantan justru mencatatkan tingkat endemisme burung paling rendah. Wilayah ini dilaporkan hanya memiliki lima spesies burung endemik.

Kecilnya angka ini harus dilihat dari sudut pandang endemisme kawasan. Secara regional, Pulau Kalimantan sebenarnya menyimpan 58 spesies burung khas. Bedanya, hanya lima spesies yang benar-benar mendiami wilayah Indonesia, sementara spesies lainnya hidup melintasi perbatasan hingga ke area Malaysia.

Perlu dipahami bahwa angka di tiap pulau mencerminkan keberadaan spesies burung endemik di wilayah tersebut. Jika seekor burung hidup melintasi batas beberapa pulau, jenis tersebut akan tercatat di tiap daerah yang dihuninya.

Hal inilah yang membuat data tiap wilayah tidak bisa langsung dijumlahkan untuk menghitung total nasional. Di sisi lain, angka burung endemik Indonesia pada 2026 ini sebenarnya mengalami penurunan dibanding tahun 2025 yang sempat menyentuh 542 spesies.

Wakil Menteri Kehutanan (Menhut) RI, Rohmat Marzuki, saat menghadiri peluncuran Dokumen Status Keanekaragaman Hayati Papua, Bali-Nusa Tenggara, Jawa, dan Maluku di Jakarta, Senin 21 Juli 2026 mengungkapkan kekayaan alam kini menghadapi tekanan berlapis, meliputi perubahan penggunaan alih fungsi lahan, dampak perubahan iklim, eksploitasi berlebihan, hingga ancaman masuknya spesies asing invasif. “ Kita tidak bisa lagi sekadar prihatin. Kita harus bertindak secara terukur, berbasis sains, dan berorientasi jangka panjang. Keanekaragaman hayati bukan sekadar daftar spesies dalam buku ilmiah, tetapi merupakan napas kehidupan masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke,” ungkapnya kepada media. (AK)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....