WKRI NTT Gelar CKG dan Kampanye Tolak Kekerasan di CFD Kota Kupang

  • 20 Jun 2026 17:05 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-102 Wanita Katolik Republik Indonesia dan sekaligus HUT ke-75 WKRI Dewan Pimpinan Daerah Nusa Tenggara Timur, WKRI NTT menggelar sejumlah kegiatan penting di area Car Free Day, Jl. El Tari Kota Kupang, Sabtu, 20 Mei 2026.

Kegiatan tersebut meliputi: jalan pagi, senam bersama, pemeriksaan dan pengobatan gratis, sosialisasi perlindungan perempuan, anak, dan dewasa rentan terhadap kekerasan.

Senam bersama dalam memperingati Hari Ulang Tahun ke-102 WKRI dan sekaligus HUT ke-75 WKRI DPD NTT di area Car Free Day,Kota Kupang. (Foto: Aris Lake)

Turut hadir dalam kesempatan tersebut yakni: Persit Kartika Chandra Kirana (KCK) Koorcab Rem 161 PD IX/Udayana, PIA Ardhya Garini Cabang 14/D.II Lanud El Tari Kupang, Jalasenastri Daerah Kodaeral VII Kupang, Bhayangkari Daerah NTT, dan tokoh perempuan lintas agama Kota Kupang serta seluruh anggota WKRI NTT.

Ketua WKRI DPD NTT Josefina M.D. Gheta, kepada wartawan mengatakan, kehadiran sejumlah tokoh perempuan ini menjadi suatu kebanggaan luar biasa bagi WKRI NTT. Ia mengungkap, kegiatan yang digelar di area CFD ini merupakan rangkaian terakhir menuju puncak perayaan HUT WKRI ke-102 dan juga WKRI DPD NTT ke-75.

Selain jalan pagi dan senam bersama, WKRI NTT juga telah berkolaborasi dengan UPT Puskesmas Oeleta melalui pelayanan Cek Kesehatan Gratis di arena CFD. Pelayanan CKG dimulai dari pengukuran tinggi badan, timbang berat badan, tensi darah, pemeriksaan gula darah, kolesterol, asam urat, hingga pengobatan.

Masyarakat Kota Kupang yang berada di CFD sangat antusias melakukan CKG. "Jadi pelayanan CKG ini bukan hanya untuk anggota WKRI tapi kita berikan secara gratis untuk masyarakat Kota Kupang," kata Ketua DPD WKRI Josefina.

WKRI NTT juga berterima kasih kepada Pemerintah Kota Kupang melalui UPT Puskesmas Oeleta yang bersedia dalam memberikan pelayanan CKG.

Josefina mengemukakan, melalui pelayanan CKG ini masyarakat bisa sadar akan pentingnya kesehatan. Sebab, suatu bangsa bisa dikatakan kuat, apabila terdapat pribadi, keluarga, dan masyarakat yang sehat secara jiwa dan raga.

WKRI NTT saat melakukan simulasi penolakan kekerasan terhadap perempuan dan anak serta dewasa rentan. (Foto: Aris Lake)

Pada saat yang sama, WKRI NTT juga memilih salah satu anggota sebagai Laskar Tanna atau fasilitator untuk melakukan sosialisasi dan menggaungkan perlindungan kekerasan terhadap perempuan, anak, dan dewasa rentan terhadap kekerasan. Simulasi penolakan kekerasan juga langsung dilakukan oleh fasilitator dan sejumlah anggota WKRI NTT melalui tulisan-tulisan.

Tak hanya itu, ke depan fasilitator akan bergerak bersama seluruh basis atau ranting-ranting untuk bersatu hati, satu suara menolak kekerasan. Sebab, diketahui bersama bahwa NTT merupakan darurat dan rawan kekerasan perempuan dan anak.

Melalui kegiatan ini diharapkan WKRI NTT dan seluruh organisasi perempuan bisa berkomitmen, bersatu hati, satu suara menolak kekerasan dan menyiapkan langkah-langkah strategis dalam upaya perlindungan perempuan dan anak serta dewasa rentan. Josefina mengajak semua organisasi perempuan untuk bersinergi dalam memerangi kekerasan baik itu kekerasan fisik, psikis, perundungan, ekonomi, dan seksual.

"Mari kita bersama-sama menolak kekerasan.Karena kekuatan kita itu bukan sendiri, tetapi ketika kita berjalan bersama-sama," tuturnya.

Di sela-sela kegiatan juga adanya senam sehat yang dipandu anggota Universal Linedance Kota Kupang dan diakhiri pembagian door prize.

Pose bersama usai jalan pagi di area Car Free Day Jl.El Tari Kota Kupang. Pada kesempatan itu, anggota WKRI mengkampanyekan penolakan kekerasan tehadap perempuan dan anak serta dewasa rentan. (Foto: Aris Lake)

Sementara itu, DP3AP2KB NTT melalui Kepala UPTD PPA Jenny Widayati, yang hadir dalam kesempatan tersebut meminta semua elemen menjadikan HUT WKRI NTT sebagai pengingat bahwa perlindungan perempuan dan anak menjadi tanggung jawab bersama.

Data SIMFONI PPA menunjukkan sepanjang 2025 tercatat 35.025 perempuan dan anak jadi korban kekerasan di Indonesia, dengan kasus terbanyak kekerasan seksual.

"Angka ini bukan sekadar data, tetapi menggambarkan perempuan dan anak yang butuh perlindungan. Upaya harus dimulai dari keluarga, gereja, sekolah, dan masyarakat," kata Jenny.

Kepala UPTD PPA NTT Jenny Widayati, saat menyampaikan arahannya dalam peringatan HUT WKRI di Area Car Free Day, Kota Kupang.(Foto: Aris Lake)

UPTD PPA menilai WKRI NTT berperan strategis membangun keluarga kuat dan mendidik generasi berkarakter.

Melalui DP3AP2KB yang beralamat di Jl. Beringin No.1 Kelurahan Fontein, menyediakan 6 layanan standar: pengaduan, penjangkauan korban, pengelolaan kasus, penampungan sementara, mediasi, dan pendampingan korban kekerasan.

"UPTD PPA siap melayani perempuan dan anak korban kekerasan. Mari wujudkan NTT ramah perempuan, layak anak, bebas kekerasan," tuturnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....