Indonesia Alami Lonjakan Deforestasi Hutan Tertinggi dalam Lima Tahun Terakhir

  • 07 Apr 2026 20:30 WIB
  •  Kupang
Poin Utama
  • Data menunjukkan kurva peningkatan deforestasi hutan selama empat tahun terakhir di Indonesia.
  • Kondisi terburuk tercatat pada tahun 2025, di mana luas hutan yang hilang melonjak drastis hingga 433.751 ha.
  • Wilayah seperti Kalimantan dan Sumatra masih menjadi titik panas utama penggundulan hutan di Indonesia.

RRI.CO.ID, Kupang - Kondisi penggundulan hutan di Indonesia selama kurun waktu lima tahun terakhir memperlihatkan fluktuasi yang krusial. Merujuk pada laporan terbaru Indonesia Deforestation Status yang dipublikasikan oleh Auriga Nusantara pada akhir Maret 2026, melansir dari Goodstats, angka kehilangan tutupan hutan di tanah air tercatat mengalami pergeseran yang cukup drastis sepanjang tahun 2021 hingga 2025.

Data menunjukkan kurva peningkatan deforestasi selama empat tahun terakhir. Tercatat sebesar 229.982 ha pada 2021, angka deforestasi bergeser naik ke angka 230.760 ha setahun setelahnya.

Memasuki tahun 2023, laju kerusakan hutan semakin tidak terbendung dengan total 257.384 ha. Tren negatif ini berlanjut hingga tahun 2024 dengan luas kehilangan hutan yang mencapai 261.575 ha.

Kondisi terburuk tercatat pada tahun 2025, di mana luas hutan yang hilang melonjak drastis hingga 433.751 ha. Angka ini menjadi peringatan keras bahwa meskipun berbagai kebijakan perlindungan telah dijalankan, tekanan terhadap ekosistem hutan Indonesia justru semakin mengkhawatirkan dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Wilayah seperti Kalimantan dan Sumatra masih menjadi titik panas utama penggundulan hutan di Indonesia. Aktivitas tambang dan ekspansi perkebunan yang terus berjalan membuat angka kehilangan hutan di Kalimantan tetap tinggi setiap tahunnya, sementara Sumatra menyusul dengan kenaikan yang mencolok dalam dua tahun belakangan.

Menariknya, wilayah Sulawesi, Papua dan Maluku kini juga menunjukkan tren peningkatan meski volumenya belum sebesar wilayah barat. Hal ini menjadi peringatan bahwa tekanan industri mulai merambah keluar dari pusat-pusat tradisional dan menyebar ke wilayah timur.

Untuk mendapatkan gambaran yang jelas, pemantauan dilakukan melalui bantuan satelit canggih yang kemudian dicocokkan dengan temuan di lapangan serta analisis data spasial. Cara ini membuat peta deforestasi jadi jauh lebih akurat dan bisa dipertanggungjawabkan secara terbuka. (AK)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....