Sebanyak 85 Persen Listrik Indonesia Bergantung Energi Fosil

  • 30 Apr 2025 18:59 WIB
  •  Kupang

KBRN, Kupang: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) melaporkan dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RKUN) 2025 bahwa konsumsi listrik Indonesia pada tahun 2024 adalah 430 TWh. Dari data yang dihimpun oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) tahun 2024 melansir dari laman Goodstat, terungkap 85% (setara dengan 85,79 GW) pembangkit listrik di Indonesia masih menggunakan bahan bakar fosil.

Pembangkit Listrik Tenaga Uap atau Mulut Tambang (PLTU/MT) batu bara menjadi yang paling dominan dengan kapasitas 53,81 GW atau 53%. Dengan kapasitas 26,17 GW atau 26% dari total, Pembangkit Listrik Tenaga Gas,Gas Uap, Mesin Gas, Mesin Gas Uap (PLTG/GU/MG/MGU) menjadi jenis pembangkit listrik terbesar kedua di Indonesia.

Di sisi lain, Pembangkit Listrik Tenaga Diesel memiliki proporsi kapasitas terkecil di antara pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar fosil, hanya sebesar 5,82 GW atau 6%. Dengan kapasitas hanya 14,90 GW atau 15% dari total, pembangkit listrik dari sumber energi baru dan terbarukan (EBT) memiliki selisih yang besar dibandingkan dengan pembangkit berbahan bakar fosil di Indonesia.

Pembangkit Listrik Tenaga Air atau Mini Hidro, Mikro Hidro (PLTA/M/MH) merupakan kontributor terbesar dari EBT dengan 7,06 GW (7%), diikuti oleh Pembangkit Listrik Tenaga Bioenergi (PLT Bio) sebesar 3,7 GW (4%). Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) memiliki kapasitas 2,64 GW atau 3%, menjadikannya sumber EBT terbesar ketiga.

Sebanyak 1% kapasitas sisanya berasal dari sumber-sumber lain, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebesar 0,91 GW, Pembangkit Listrik Tenaga Gempa Bumi (PLTGB) sebesar 0,45 GW, Waste Heat Boiler dengan 0,18 GW, dan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) yang terkecil dengan 0,15 GW. (AK)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....