YTTA Koe Bangun Usaha Kuliner Lewat Konsistensi Inovasi
- 14 Jan 2026 20:35 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang : Kehadiran media sosial kini menjadi mesin utama bagi pertumbuhan bisnis baru untuk cepat dikenal masyarakat melalui konten yang viral. Namun, bagi pemilik usaha kuliner YTTA (Yang Tahu Tahu Aja) Koe, M. Aditya Pahlevi bersama Dyah Wahyu Nastiti, kekuatan konten harus diimbangi dengan kesiapan operasional yang matang agar tidak mengecewakan konsumen.
Dalam wawancara bersama RRI dalam segmen Muda Kreatif pada Selasa, 13 Januari 2026, pemilik usaha yang berfokus pada kuliner tahu isi ini menjelaskan penggunaan platform seperti TikTok dan Instagram sangat efektif untuk membangun identitas visual sebuah bisnis di era kekinian.
"Branding lewat media sosial tetap dibutuhkan untuk mengenalkan produk, tetapi bisnis owner harus maksimal mengelolanya agar masyarakat luas tahu keunggulan kita," ujar Dyah yang juga merupakan akademisi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nusa Cendana (Undana) ini.
Sementara Levi menambahkan kesiapan mental dan stok produk sangat krusial sebelum memutuskan untuk menaikkan popularitas secara masif melalui jalur viral. Levi menilai keviralan seharusnya datang saat usaha sudah siap melayani lonjakan permintaan.
"Kalau usaha kita sudah siap dan settle, barulah kita manjakan konsumen dengan keviralan itu, bukan malah menyusahkan mereka dengan antrean yang terlalu lama," ungkap Levi menekankan pentingnya pengalaman pelanggan.
Menghadapi tren kuliner yang terus berubah setiap bulannya, YTTA Koe memilih strategi untuk selalu terbuka terhadap inovasi dan tidak terjebak dalam idealisme yang monoton. Strategi ini dilakukan dengan cara mengikuti permintaan konsumen yang tinggi namun tetap menjaga kualitas rasa agar identitas produk tetap terjaga di mata para pelanggan.
Keduanya menilai jika pangsa pasar di Kupang sendiri disebut memiliki karakter unik dengan antusiasme dan loyalitas konsumen yang dinilai tinggi, selama penyedia jasa mampu menjaga konsistensi rasa dan layanan yang prima. Kunci keberhasilan yang mereka terapkan di awal usaha adalah disiplin untuk tidak menutup gerai selama tiga bulan pertama guna membentuk kebiasaan dan kesadaran di benak masyarakat.
Baik Levi dan Dyah sepakat dalam menjaga rasa, pelayanan dan konsistensi jauh lebih penting dibanding sekadar mengikuti tren sesaat. Keduanya berpesan bagi anak muda yang ingin memulai usaha, modal finansial bukanlah satu-satunya faktor penentu karena kolaborasi tim dan keberanian memulai jauh lebih penting.
“Masalah modal yang terbatas bisa disiasati dengan memulai dari skala rumahan atau memanfaatkan sistem pre-order sebelum akhirnya berkembang menjadi usaha yang lebih besar,” tegas Dyah.
Ke depan, pemilik usaha YTTA Koe berharap bisa menjadi brand yang melekat di ingatan masyarakat saat berbicara tentang olahan tahu. Melalui perjalanan yang penuh proses, keduanya ingin membuktikan bahwa usaha yang dibangun dengan kesiapan dan konsistensi mampu tumbuh berkelanjutan.
Sebagai penutup, kedua pemilik ini mendorong generasi muda untuk mengubah keresahan pribadi menjadi peluang bisnis yang mendatangkan keuntungan finansial bagi banyak orang. Dengan menciptakan lapangan kerja sendiri, seseorang tidak hanya membantu diri sendiri tetapi juga memberikan dampak positif bagi ekosistem ekonomi di sekitarnya. (AK)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....