Kue Adrem Ditetapkan Jadi Warisan Budaya Takbenda
- 09 Okt 2025 08:19 WIB
- Kupang
KBRN, Kupang: Jauh dari bentuk tarian agung atau upacara sakral, warisan budaya dapat hadir secara sederhana, bahkan melalui sepotong kue tradisional. Di Bantul, D.I. Yogyakarta, warisan semacam itu berwujud kue adrem.
Kue ini merupakan jajanan khas yang tidak hanya dikenal karena rasanya, tetapi juga karena sebutan uniknya yang disingkat menjadi tolpit oleh masyarakat setempat. Kue adrem memiliki filosofi yang mendalam, jauh melampaui sekadar camilan manis pendamping teh.
Adrem merefleksikan potret kehidupan masyarakat Jawa yang sederhana, apa adanya, namun sarat dengan rasa syukur dan kebijaksanaan. Pentingnya kue adrem ini diakui secara nasional ketika Kementerian Kebudayaan RI menetapkannya sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia, seperti dilansir dari laman resmi Pemprov DIY.
Penetapan ini menggarisbawahi kekayaan kuliner lokal dan menegaskan peran adrem sebagai bagian integral dari identitas masyarakat Bantul. Secara spiritual, kue adrem sangat berarti bagi masyarakat Jawa di masa lalu;
Kue ini sering disajikan dalam upacara panen sebagai wujud rasa syukur kepada Dewi Sri, dewi kesuburan. Bahkan, dahulu, transaksi adrem tidak menggunakan uang, melainkan dilakukan melalui sistem barter dengan hasil panen seperti padi atau gabah.
Tradisi di balik kue adrem mencerminkan filosofi hidup masyarakat agraris yang menghormati alam dan menjunjung tinggi keseimbangan. Meskipun sekilas tampak mirip dengan kue cucur karena bahan dasarnya sama-sama menggunakan tepung beras dan gula jawa, adrem memiliki perbedaan mencolok pada hasil akhirnya.
Teksturnya lebih padat dan kenyal, dengan bentuk unik menyerupai kuncup bunga yang terjepit di bagian tengah. Daya tarik kue ini terletak pada warna cokelat keemasan dan aroma gula jawa yang khas.
Ketika dinikmati, adrem menawarkan perpaduan rasa manis legit, gurih halus, dan sedikit pahit alami dari gula aren. Rasa yang sederhana namun kaya karakter ini sejalan dengan filosofi masyarakat Jawa yang selalu mencari keseimbangan antara sisi manis dan getir kehidupan.
Dengan status Warisan Budaya Takbenda, kue ini tidak hanya menempati posisi istimewa dalam kuliner Nusantara, tetapi juga membuktikan bahwa warisan budaya yang bermakna tidak harus selalu terlihat megah. (AK)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....