Papeda, Kuliner Tradisional Penuh Cita Rasa dan Makna

  • 10 Agt 2025 16:09 WIB
  •  Kupang

KBRN,Kupang: Papeda adalah makanan khas dari wilayah Timur Indonesia yang terbuat dari sagu. Teksturnya kental, lengket, dan menyerupai lem, dengan warna putih bening yang khas. Meskipun tampilannya sederhana, papeda menyimpan kekayaan budaya dan cita rasa yang mendalam bagi masyarakat Papua, Maluku, dan beberapa daerah di Sulawesi.

Papeda berasal dari Papua dan Maluku, wilayah yang menjadikan sagu sebagai makanan pokok masyarakatnya. Sagu yang digunakan diolah menjadi bubur kental tanpa rasa (tawar) yang memiliki kandungan gula dan gluten yang sangat rendah. Karena itulah, papeda sangat direkomendasikan untuk penderita diabetes dan mereka yang menjalani pola hidup sehat.

Papeda biasanya disajikan bersama hidangan berkuah kuning, seperti ikan tongkol atau mubara yang dimasak dengan bumbu kunyit. Bisa juga dipadukan dengan ikan bakar atau sayur asam, sehingga menghasilkan keseimbangan rasa antara gurih, asam, dan aroma rempah yang menggugah selera.

Papeda bukan hanya sekadar makanan pokok, tapi juga memiliki nilai budaya yang tinggi. Di Papua dan Maluku, papeda sering dihidangkan dalam upacara adat dan kegiatan kebersamaan. Makan papeda bersama-sama menjadi simbol kekeluargaan dan kebersamaan yang menguatkan ikatan sosial masyarakat.

Menikmati papeda adalah pengalaman yang melibatkan seluruh indra. Aroma khas dari ikan dan rempah, tekstur lembut dan licin dari sagu yang kadang tertelan utuh, serta cara makannya yang unik—menggunakan sumpit atau garpu kayu untuk menggulung papeda hingga melingkar sebelum dimasukkan ke mulut—semuanya menjadi pengalaman kuliner yang tak terlupakan.

Kegiatan ini pun bisa menjadi bentuk mindful eating, yaitu makan dengan penuh kesadaran. Dengan fokus pada rasa, tekstur, dan setiap suapan, kita tidak hanya mengisi perut, tetapi juga menghargai makanan sebagai sumber energi dan penyembuh, termasuk untuk keluhan seperti sakit ulu hati dan perut kembung.

Saya pernah merasakan papeda di Kupang, Nusa Tenggara Timur, dalam suasana yang sangat menyentuh hati. Makan papeda saat itu tidak hanya memuaskan rasa lapar, tetapi juga membuka jendela memori yang sarat emosi dan nostalgia.

Papeda saya nikmati di sebuah kafe trotoar anak-anak Maluku, dalam rangka Expo Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang diselenggarakan untuk memperingati Hari Ulang Tahun GMIT Jemaat Kota Kupang ke-411. Lokasinya tepat di sepanjang Jalan Soekarno, di depan Gereja Kota Kupang. Momen itu menjadi bentuk nyata rasa syukur atas berkat dan anugerah Tuhan, serta pengingat bahwa kita semua basodara—bersaudara. (NP)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....