Mengenal Asal Mula Roti Kompiang

  • 23 Jun 2025 18:48 WIB
  •  Kupang

KBRN,Kupang - Roti kompiang mungkin belum seterkenal roti manis atau roti sobek di kota-kota besar, namun di beberapa wilayah Indonesia Timur—terutama di Flores, Nusa Tenggara Timur—roti ini merupakan bagian penting dari tradisi kuliner lokal. Dengan rasa khas, bentuk pipih bulat, dan taburan wijen yang wangi, kompiang menyimpan kisah sejarah yang menarik dari perpaduan budaya Tionghoa dan lokal.

Roti kompiang adalah roti berbentuk bulat pipih, bertekstur agak keras di luar namun empuk di dalam. Permukaannya ditaburi biji wijen yang menambah aroma dan rasa gurih. Roti ini bisa dimakan langsung atau dijadikan pendamping makanan lain, seperti kuah atau lauk.

Roti kompiang dipercaya berasal dari tradisi kuliner Tionghoa, khususnya dari suku Hokkian atau Hakka. Dalam sejarahnya, roti serupa disebut “kompyang” atau “kong piang”, yang diperkenalkan oleh perantau Tionghoa ke Asia Tenggara, termasuk ke wilayah Indonesia Timur.

Menurut cerita yang berkembang, roti kompiang pertama kali dibawa oleh pendatang Tionghoa ke Flores pada awal abad ke-20. Para imigran ini menetap di daerah seperti Ruteng dan Labuan Bajo, kemudian berbaur dengan masyarakat lokal dan memperkenalkan makanan khas mereka, salah satunya kompiang.

Roti kompiang awalnya dibuat sebagai bekal perjalanan karena teksturnya yang tahan lama dan tidak mudah basi. Di masa lalu, roti ini bahkan digunakan oleh tentara sebagai ransum saat bergerak tanpa perlu membawa peralatan makan. Kompiang yang keras di bagian luar membantu melindungi bagian dalamnya dari kerusakan saat dibawa jauh.

Seiring waktu, roti kompiang di Flores mengalami penyesuaian rasa dan bentuk. Di Ruteng, misalnya, kompiang menjadi makanan ringan khas yang banyak dijual di pasar atau toko roti lokal. Meskipun bentuknya sederhana, cita rasa kompiang yang otentik menjadikannya roti yang dirindukan banyak orang, terutama perantau asal Flores.

Ciri Khas Roti Kompiang

  • Bentuk pipih dan bulat, biasanya seukuran telapak tangan
  • Dibakar di oven tradisional, yang memberi aroma khas panggangan
  • Taburan wijen di atas permukaan roti
  • Rasa gurih dan ringan, cocok untuk camilan atau teman minum kopi
  • Beberapa varian modern menambahkan isi daging atau keju, meskipun versi tradisional tetap polos

Roti kompiang bukan sekadar makanan, tetapi juga warisan budaya yang menunjukkan akulturasi antara masyarakat Tionghoa dan penduduk lokal Flores. Hingga kini, banyak keluarga keturunan Tionghoa di daerah tersebut yang masih menjaga tradisi membuat kompiang, baik untuk dijual maupun dikonsumsi pribadi.

Roti kompiang adalah simbol sejarah panjang percampuran budaya dan semangat bertahan hidup masyarakat perantau. Meski sederhana, roti ini memiliki nilai historis dan rasa yang unik. Bagi pecinta kuliner tradisional, kompiang layak dicicipi dan dikenali sebagai bagian dari kekayaan kuliner Indonesia Timur.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....