Dampak Negatif Kebisingan bagi Pendengaran dan Kesehatan Tubuh
- 02 Jul 2024 15:22 WIB
- Kupang
KBRN, Kupang: Polusi suara seperti kebisingan, dapat membahayakan pendengaran dan berdampak buruk bagi kesehatan. Ketika gelombang suara memasuki telinga, gelombang ini membuat selaput kecil, tulang dan sel rambut dalam telinga bergetar, dan memicu sinyal listrik yang ditafsirkan oleh otak sebagai suara.
Suara yang sangat keras atau berulang, selain dapat merusak selaput, sel rambut atau saraf yang mengatur pendengaran, juga dapat memicu serangkaian masalah pada tubuh. Ahli epidemiologi di Brown University mengatakan kepada Live Science, paparan suara yang keras juga berpengaruh pada suasana hati yang menyebabkan tubuh mengaktifkan respons untuk melawannya.
Institut Nasional untuk Keselamatan dan Kesehatan Kerja (NIOSH) di Amerika Serikat juga mengatur seberapa bisingnya tingkat kebisingan di tempat kerja pada hari-hari tertentu. NIOSH merekomendasikan agar pekerja tidak terpapar kebisingan lebih dari 85 dBA, kira-kira setara dengan suara mesin pemtong rumput, penyedot debu, dan perkakas listrik lebih dari delapan jam.
Walker juga mengatakan, kebisingan ini dapat merangsang strees, membuat seseorang bernapas lebih cepat, detak jantung yang meningkat, sehingga apabila terjadi secara terus menerus, kebisingan kronis dapat menyebabkam masalah kesehatan yang serius. Bukan hanya masalah kesehatan fisik, dari aspek psikologis, dapat membuat seseorang mengalami gangguan kesehatan mental, seperti peningkatan kecemasan dan depresi.
Tingkat kebisingan yang tinggi juga mempengaruhi waktu tidur seseorang. Padahal, saat tidur, tubuh membersihkan racun dari otak dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
Ketika tidur terganggu, hal ini dapat menyebabkan berbagai efek fisiologis, seperti disfungsi pembuluh darah dan perubahan metabolisme glukosa serta pengaturan nafsu makan. Gangguan tidur kronis dikaitkan dengan berbagai dampak kesehatan yang negatif, termasuk obesitas, diabetes, hipertensi, penyakit kardiovaskular, dan fungsi kognitif yang lebih buruk.
“Bahkan suara serendah 30 hingga 40 dB juga bisa membuat seseorang yang sedang tidur dapat terbangun. Jika mencapai 40-50 dB, maka dampak buruknya akan lebih dirasakan”, tambahnya.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan 1,1 miliar anak muda berusia antara 12 dan 35 tahun beresiko mengalami gangguan pendengaran akibat paparan kebisingan kronis, termasuk yang berasal dari perangkat audio pribadi. Cara terbaik untuk melawan polusi suara adalah dengan menjauhi sumbernya, namun hal ini mungkin sulit ketika menghadapi suara yang dihasilkan dari kereta api, bandara, jalan raya atau pusat pertanian dan industri. (JR)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....