Mengenal Batuk Pertusis atau Batuk 100 Hari

  • 03 Jun 2024 09:32 WIB
  •  Kupang

KBRN, Kupang: Batuk rejan atau disebut dengan pertusis adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri Bordetella Pertussis yang menyerang paru-paru dan saluran pernapasan manusia. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), disebut batuk pertusis karena karakteristik batuk dengan suara keras yang dikeluarkan oleh penderitanya.

Jenis batuk pertusis dikenal juga dengan batuk 100 hari, karena batuk ini bisa berlangsung dalam jangka panjang tanpa membaik sedikit pun.

Bakteri penyebab pertusis ini menyebar melalui udara dan masuk dalam tubuh manusia yang menghirupnya, kemudian menyerang dinding saluran pernapasan dan melepaskan racun. Hal ini membuat pengidapnya kesulitan bernapas, sehingga harus menarik napas kuat melalui mulut dan menimbulkan bunyi dengkingan panjang saat bernapas.

Selain mengeluarkan racun, bakteri pertusis juga dapat menginfeksi saluran napas dengan memproduksi lendir yang kental, dan membuat saluran pernapasan mengeluarkannya dengan cara batuk.

Menurut Live Sieence, pertusis sangat mudah menyebar, sehingga mudah menginfeksi orang sekitar. Infeksi terjadi jika penderitanya batuk atau bersin dan menyebarkan bakteri ke udara.

Adapun gejala batuk rejan yang harus diwaspadai adalah pilek dan hidung tersumbat, demam, dan batuk ringan. Gejala berlanjut ke fase paroksismal, yaitu serangan batuk hebat yang terus terjadi selama satu hingga enam minggu, dan dalam beberapa kasus mencapai sepuluh minggu.

Pada fase ini, penderita akan mengeluarkan suara batuk rejan, yang terdengar seperti bunyi ”whoop”. Batuk ini menimbulkan beragam keluhan seperti sesak napas, muntah, wajah tampak merah atau kebiruan, dan sulit tidur.

Batuk pertusis dapat dicegah dengan cara vaksinasi atau imunisasi pertusis, yang dikenal sebagai vaksin DTaP dan Tdap atau booster Td. Vaksin ini melindungi seseorang dari penyakit difteri, tetanus dan batuk rejan. Orang yang divaksinasi masih bisa terkena pertusis, tetapi gejalanya cenderung ringan dibandingkan yang tidak di vaksinasi. (JR)


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....