Pasca Gempa, ISPA dan Diare Mulai Mengintai Pengungsi Flores
- 01 Okt 2026 17:10 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Ancaman kesehatan bagi warga terdampak gempa Flores belum berakhir meski fase awal penanganan bencana telah berlalu. Setelah menghadapi kerusakan rumah dan kehilangan tempat tinggal, para pengungsi kini menghadapi persoalan baru yakni meningkatnya keluhan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan diare.
Kondisi tersebut disampaikan Ketua Koordinator Bidang Pengabdian Masyarakat sekaligus Ketua Koordinator Bencana Gempa Flores 2026 dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) NTT, dr. Yuliana Imelda Ora Adja, M.Biomed., Sp.N, setelah turun langsung ke sejumlah wilayah terdampak di Manggarai Tengah dan Manggarai Timur. Menurut dr. Yuliana, keluhan penyakit mulai bermunculan seiring warga harus tinggal dalam tenda pengungsian dalam waktu yang cukup lama. "Pasca gempa sebenarnya yang paling sering dialami, dikeluhkan, yang kita mulai bergerak itu adalah ISPA, penyakit saluran pernafasan dan diare," ujarnya.
Salah satu persoalan utama yang dihadapi warga adalah kondisi tempat tinggal sementara yang belum sepenuhnya layak. Banyak warga masih bertahan di tenda karena rumah mereka roboh, rusak berat atau dinilai tidak aman untuk ditempati.
Masalahnya, tidak semua lokasi pengungsian memiliki kondisi sanitasi yang memadai. dr. Yuliana mencontohkan kondisi pengungsian di Reo. Tenda-tenda warga didirikan di lorong jalan yang berada di sekitar saluran pembuangan.
"Kemarin seperti di Reo itu tendanya dibangun di lorong jalan yang samping-sampingnya itu got," katanya. Kondisi tersebut membuat lingkungan tempat warga beristirahat menjadi kurang ideal.
Bahkan, menurut dr. Yuliana, bau dari saluran pembuangan sudah tercium ketika melewati kawasan tersebut. Namun, warga terpaksa bertahan di lokasi itu karena rumah-rumah di sekitar mereka telah roboh.
Situasi ini membuat penanganan pascabencana tidak cukup hanya dengan memberikan pertolongan kepada korban luka akibat gempa. Tenaga kesehatan juga harus mengantisipasi penyakit yang dapat muncul ketika masyarakat tinggal dalam kondisi pengungsian dalam waktu lama.
ISPA menjadi salah satu keluhan yang mulai ditemukan. Kondisi lingkungan yang padat dan tempat tinggal sementara yang terbatas menjadi perhatian tenaga kesehatan.
Selain ISPA, diare juga mulai menjadi persoalan. Ketersediaan air bersih, sanitasi dan kebersihan lingkungan menjadi bagian penting yang harus diperhatikan dalam menjaga kesehatan masyarakat di lokasi pengungsian.
Karena itu, pelayanan kesehatan pascabencana kini tidak hanya diarahkan pada korban trauma dan cedera, tetapi juga pada pencegahan munculnya masalah kesehatan lanjutan. Untuk mendukung pelayanan kesehatan, IDI Wilayah NTT bersama berbagai pihak kemudian memperkuat fasilitas kesehatan di wilayah terdampak.
Sebanyak 25 puskesmas di Manggarai Tengah mendapatkan bantuan obat-obatan dan peralatan medis. Bantuan tersebut mencakup termometer, tensimeter, USG Doppler, alat nebulizer, regulator oksigen, kursi roda dan tongkat.
Kebutuhan masyarakat di pengungsian juga ikut diperhatikan. Bantuan berupa pembalut dan popok turut disiapkan untuk memenuhi kebutuhan dasar warga selama berada di pengungsian.
Bantuan tersebut didistribusikan langsung oleh tim ke fasilitas kesehatan yang membutuhkan. Selain Manggarai Tengah, dukungan juga diberikan kepada sejumlah fasilitas kesehatan lain yang terdampak, termasuk pustu di Manggarai Barat serta puskesmas di Reo dan Dampek.
Bagi tenaga kesehatan, fase pascagempa justru menghadirkan tantangan baru. Ketika luka akibat reruntuhan mulai ditangani, perhatian bergeser pada kondisi warga yang masih hidup dalam keterbatasan.
Mereka kehilangan rumah, tinggal di tenda, menghadapi perubahan cuaca yang ekstrem, serta harus berbagi fasilitas sanitasi yang belum sepenuhnya memadai. Karena itu, pemulihan kesehatan masyarakat menjadi bagian penting dari proses pemulihan pascabencana.
Gempa mungkin telah berlalu, tetapi bagi para pengungsi, perjuangan untuk kembali hidup normal masih panjang. Dan sebelum rumah-rumah mereka kembali berdiri, memastikan tenda pengungsian tetap sehat dan aman menjadi pekerjaan yang tidak kalah penting. (DW)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....