Bukan Cuma Pernapasan, Asap Kebakaran Hutan juga Ancam Otak Anak

  • 23 Agt 2026 21:58 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Asap kebakaran hutan dan lahan selama ini lebih sering dikaitkan dengan gangguan pada sistem pernapasan. Padahal, paparan asap yang mengandung partikel halus dan berbagai polutan juga menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi kesehatan otak, terutama pada anak-anak yang masih berada dalam masa pertumbuhan dan perkembangan.

Anak-anak termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap dampak polusi udara karena organ tubuh mereka masih berkembang. Ketika menghirup udara yang tercemar asap kebakaran, partikel berukuran sangat kecil dapat masuk ke saluran pernapasan dan memicu peradangan. Kondisi tersebut kemudian dikhawatirkan turut memengaruhi fungsi tubuh lainnya, termasuk sistem saraf.

Dampak terhadap otak tidak selalu terlihat secara langsung. Paparan polusi udara dalam jangka pendek dapat berkaitan dengan keluhan seperti sakit kepala, mudah lelah, atau kesulitan berkonsentrasi. Sementara itu, paparan yang berlangsung berulang atau dalam jangka panjang menjadi perhatian para ahli karena dapat berpotensi memengaruhi perkembangan kognitif dan kesehatan saraf anak.

Karena itu, orang tua perlu meningkatkan kewaspadaan ketika kualitas udara memburuk akibat kebakaran hutan atau lahan. Anak sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika asap pekat, terutama pada saat kualitas udara berada dalam kategori tidak sehat. Penggunaan masker yang sesuai serta memastikan sirkulasi udara di dalam rumah tetap aman juga dapat menjadi langkah untuk mengurangi paparan.

Selain mengurangi paparan, orang tua dapat memantau kondisi anak selama terjadi kabut asap. Keluhan seperti batuk, sesak napas, sakit kepala, lemas, atau perubahan kemampuan berkonsentrasi perlu diperhatikan. Jika muncul gejala yang berat atau menetap, anak sebaiknya mendapatkan pemeriksaan dari tenaga kesehatan agar penyebab dan penanganannya dapat ditentukan dengan tepat.

Ancaman asap kebakaran hutan terhadap kesehatan anak dengan demikian tidak hanya berkaitan dengan paru-paru. Kualitas udara yang buruk juga menjadi persoalan kesehatan yang lebih luas, termasuk potensi dampaknya terhadap sistem saraf. Perlindungan dari paparan asap, pemantauan kualitas udara, dan penanganan medis ketika muncul keluhan menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan anak. (RN)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....