Dukungan Psikososial Penting bagi Anak di Pengungsian

  • 21 Agt 2026 11:51 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Penanganan bencana alam di kawasan Nusa Tenggara Timur (NTT) sering kali masih berfokus pada pemenuhan bantuan fisik dan logistik semata. Padahal, luka psikologis pada anak-anak di pengungsian membutuhkan perhatian yang sama pentingnya agar tidak berdampak panjang pada tumbuh kembang mereka.

Hal tersebut ditegaskan oleh Pakar Psikologi sekaligus Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nusa Cendana (Undana), Mariana Ikun R. Pareira, M.Psi.T., Psikolog, dalam Obrolan Akamsi yang disiarkan Pro 4 RRI Kupang pada Kamis, 20 Agustus 2026.

Menurut Mariana, anak-anak merupakan kelompok paling rentan saat bencana terjadi karena kapasitas emosional dan kognitif mereka yang masih terus berkembang. Berbeda dengan orang dewasa, anak-anak umumnya belum mampu menyampaikan beban emosionalnya secara verbal.

"Anak-anak masih dalam proses perkembangan untuk mengelola emosi dan memahami situasi krisis. Mereka tidak bisa bilang kalau sedang stres seperti orang dewasa, melainkan menyalurkannya lewat perubahan perilaku," ujar Mariana

Ia menerangkan beberapa tanda perubahan perilaku yang sering luput dari perhatian pendamping pengungsian maupun orang tua, di antaranya :

  • Sikap mendadak pendiam atau menarik diri dari lingkungan sosial
  • Ketergantungan berlebihan pada orang tua (clinging)
  • Gangguan tidur, sering bermimpi buruk, hingga kembali ngompol
  • Kehilangan minat untuk bermain serta berkurangnya konsentrasi belajar

Mariana juga mengingatkan agar anak yang bersikap tenang atau diam di lokasi pengungsian tidak langsung dianggap baik-baik saja. "Sikap diam bukan berarti tidak mengalami tekanan, melainkan bentuk reaksi kejutan (shock) yang tetap butuh perhatian,"

Dalam pandangan akademisnya, pemulihan psikologis anak pascabencana tidak harus selalu dimulai dengan tindakan medis atau terapi klinis yang berat. Pendekatan sederhana yang sifatnya mengembalikan rasa aman dan rutinitas harian anak jauh lebih efektif dilakukan sejak dini.

Salah satu cara efektif yang disarankannya adalah lewat kegiatan bermain terstruktur (play therapy sederhana), seperti menggambar, bernyanyi, atau bercerita bersama.

"Bermain adalah bahasa alami anak. Melalui guratan gambar atau cerita saat bermain, anak bisa mengekspresikan rasa takut dan kecemasannya secara bertahap tanpa merasa diinterogasi," kata akademisi Undana tersebut

Ia mendorong sinergi antara akademisi, relawan, dan pemerintah daerah untuk memasukkan program dukungan psikososial anak ke dalam prioritas tanggap darurat bencana. Pemulihan fisik serta psikologis harus berjalan beriringan guna menjamin masa depan anak-anak di daerah terdampak. (TT)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....