Psikolog Ungkap Risiko Curhat saat Marah di Media Sosial

  • 09 Agt 2026 20:11 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Di tengah penggunaan media sosial yang semakin tinggi, banyak orang memilih meluapkan emosi melalui unggahan status, cerita, atau komentar saat sedang marah. Psikolog mengingatkan bahwa kebiasaan curhat di media sosial ketika emosi memuncak dapat menimbulkan berbagai risiko, baik bagi kesehatan mental maupun hubungan sosial seseorang.

Menurut psikolog, saat marah kemampuan seseorang untuk berpikir jernih cenderung menurun. Akibatnya, unggahan yang dibuat sering kali bersifat impulsif dan mengandung kata-kata yang disesali kemudian.

Sekali dipublikasikan, konten tersebut dapat disimpan, dibagikan ulang, atau dilihat oleh banyak orang sehingga sulit untuk benar-benar dihapus. Risiko lain yang dapat muncul adalah rusaknya hubungan dengan keluarga, pasangan, teman, atau rekan kerja.

Curhat yang menyebut pihak tertentu secara langsung maupun tidak langsung dapat memicu konflik baru, salah paham, hingga menurunkan kepercayaan. Dalam beberapa kasus, unggahan emosional juga dapat berdampak pada citra pribadi dan profesional seseorang.

Dari sisi psikologis, kebiasaan melampiaskan kemarahan di media sosial tidak selalu membantu menyelesaikan masalah. Respons negatif dari warganet, komentar yang menghakimi, atau perdebatan berkepanjangan justru dapat memperburuk emosi dan meningkatkan stres.

Psikolog menilai validasi dari media sosial bersifat sementara dan tidak menggantikan dukungan emosional yang sehat. Psikolog menyarankan agar seseorang memberi jeda sebelum mengunggah sesuatu ketika sedang marah, misalnya dengan menarik napas dalam, menenangkan diri, menulis perasaan secara pribadi, atau berbicara langsung dengan orang yang dipercaya.

Mengelola emosi secara lebih tenang dinilai dapat mencegah penyesalan di kemudian hari dan membantu menyelesaikan konflik dengan cara yang lebih bijak. (RN)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....