Psikolog Maria Regina: Cari Bantuan Bukan Tanda Lemah

  • 09 Agt 2026 19:44 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Masih maraknya pandangan miring masyarakat terhadap isu kesehatan mental membuat sebagian besar perempuan enggan mencari bantuan profesional saat mengalami tekanan emosional. Stigma bahwa datang ke psikolog identik dengan "gangguan jiwa" atau bentuk kelemahan diri masih menjadi tembok penghalang yang cukup tebal.

Menanggapi fenomena tersebut, psikolog Maria Regina D. Fallo, S.Psi., mengajak masyarakat untuk mengubah cara pandang terhadap kesehatan mental dalam siaran Obrolan Akamsi di RRI Pro 4 Kupang pada Kamis, 6 Agustus 2026.

Regina menegaskan bahwa seseorang yang memutuskan berkonsultasi ke psikolog bukanlah sosok yang lemah atau hilang akal, melainkan individu yang memiliki kesadaran tinggi atas kondisi dirinya.

"Seseorang yang pergi ke psikolog adalah orang yang menyadari bahwa situasi psikologisnya sedang tidak baik-baik saja. Mengakui batasan diri dan kondisi tersebut merupakan sebuah keberanian tertinggi yang tidak semua orang mampu lakukannya," ujar Regina.

Ia menyayangkan masih banyaknya tanggapan miring dari lingkungan sekitar—seperti menganggap kurang beribadah, menyalahkan pola pikir, hingga mengaitkan dengan kemanjaan—saat seorang perempuan berniat mencari bantuan profesional. Tanggapan sepele tersebut justru berpotensi memperburuk kondisi kejiwaan seseorang.

Berdasarkan pengalaman klinisnya, Regina memaparkan tiga hal krusial yang perlu dipahami dalam merawat kesehatan mental perempuan:

  1. Jujur terhadap Realitas Diri

    Dibutuhkan keberanian besar untuk melepas "topeng kekuatan" dan jujur mengakui bahwa diri sedang lelah atau butuh bantuan.

  2. Lawan Kemandirian Ekstrem (Hyper-Independence)

    Perempuan tidak harus menanggung semua beban sendirian. Meruntuhkan tembok kemandirian ekstrem dan membiarkan orang lain atau profesional membantu adalah langkah awal mengenali potensi diri.

  3. Tanggung Jawab Aktif terhadap Pemulihan Diri

    Sama halnya dengan merawat fisik ketika sakit tubuh, mendatangi psikolog, psikiater, atau konselor adalah tindakan aktif untuk memulihkan kesehatan mental sebelum berdampak lebih jauh.

Menutup obrolan, Regina berpesan agar perempuan Indonesia, khususnya di Nusa Tenggara Timur (NTT), tidak lagi menjadikan kesehatan mental sebagai prioritas belakangan dari sisa-sisa energi harian.

"Sama seperti fisiknya, jiwa juga butuh dirawat. Meminta bantuan tenaga profesional adalah langkah aktif pemulihan, bukan tanda menyerah pada keadaan. Mari stop menormalisasi candaan atau menganggap sepele beban psikologis orang lain," ujar Regina. (TT)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....