Superwoman Syndrome, Ancaman di Balik Perempuan Serba Bisa
- 09 Agt 2026 19:37 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Di balik keterbukaan akses karier dan pendidikan bagi perempuan masa kini, tersimpan tantangan psikologis yang kian kompleks. Tuntutan untuk tampil sempurna di segala lini kehidupan memicu hadirnya fenomena Superwoman Syndrome yang rentan menyebabkan kelelahan mental (burnout).
Hal tersebut menjadi sorotan utama psikolog Maria Regina D. Fallo, S.Psi. dalam siaran Obrolan Akamsi di RRI Pro 4 Kupang pada Kamis, 6 Agustus 2026. Regina memaparkan bahwa banyak perempuan modern saat ini terjebak dalam ekspektasi ganda yang sangat membebani.
Menurut Regina, fenomena Superwoman Syndrome terjadi ketika seorang perempuan merasa dituntut untuk menguasai berbagai keterampilan (multitasking) sekaligus tanpa celah—mulai dari ranah profesional hingga ranah domestik.
"Sering kali lingkungan mengekspektasikan perempuan harus mandiri dan memiliki penghasilan tetap, namun di saat bersamaan tetap dibebani tanggung jawab domestik secara penuh. Perempuan dituntut harus pandai mengurus rumah tangga, mendampingi anak, melayani suami, bahkan mendadak menjadi guru bagi anak di rumah," jelas Regina.
Akibat dari overload peran ini, perempuan harus memikul beban mental invisible (mental load)—mulai dari memikirkan, merencanakan, hingga mengeksekusi kebutuhan seluruh anggota keluarga setiap harinya.
Regina menjelaskan setidaknya ada tiga faktor utama yang melanggengkan standar tidak realistis pada perempuan modern:
Konflik dan Ekspektasi Ganda
Terbukanya kesempatan berkarier yang tidak diimbangi dengan pembagian peran domestik yang setara, sehingga menciptakan beban ganda.
Ilusi Media Sosial
Terpapar paparan visual idealis di media sosial yang menampilkan sosok perempuan "sempurna" mulai dari karier cemerlang, keluarga harmonis, hingga penampilan fisik ideal yang memicu perbandingan diri tidak sehat.
Harga Diri Berbasis Pencapaian (Achievement-Based Self-Worth)
Keyakinan keliru bahwa harga diri seorang perempuan baru diakui jika mampu menyenangkan semua orang (people-pleasing) dan membuktikan kemampuannya di seluruh bidang.
Penumpukan tekanan ini sering kali diperparah oleh rasa bersalah (guilt trip) yang dialami perempuan saat ingin meluangkan waktu untuk merawat diri sendiri (self-care). Mengambil waktu istirahat sejenak kerap disalahartikan oleh lingkungan sebagai tindakan egois atau kelalaian tanggung jawab.
Untuk mencegah dampak buruk terhadap kesehatan mental, Regina mengimbau para perempuan agar berani menetapkan batasan diri yang sehat (healthy boundaries) dan mengikis stigma bahwa merawat diri adalah sikap egois.
"Menetapkan batasan dan berani berkata 'tidak' bukanlah tindakan egois. Kamu tidak bisa menuangkan air ke dalam cangkir orang lain jika cangkirmu sendiri kosong. Merawat kesehatan mental diri sendiri adalah bentuk penghormatan tertinggi atas hidupmu," kata Regina. (TT)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....