Konsumsi Makanan Ultra-Olahan Berpotensi Turunkan Daya Ingat Generasi Muda
- 26 Jun 2026 00:35 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID,Kupang – Kebiasaan mengonsumsi makanan ultra-olahan dalam jumlah tinggi berpotensi menurunkan kemampuan daya ingat dan konsentrasi pada orang dewasa muda. Temuan tersebut terungkap dalam sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Nutritional Neuroscience, menurut laporan psypost, Rabu 24 Juni 2026.
Penelitian yang dilakukan oleh Sara Rafiei dan tim dari Universitas Ilmu Kedokteran Iran itu melibatkan 416 mahasiswa berusia 18 hingga 35 tahun. Para peneliti menemukan adanya hubungan antara tingginya konsumsi makanan ultra-olahan dengan penurunan performa kognitif, khususnya memori jangka pendek.
Makanan ultra-olahan merupakan produk yang sebagian besar dibuat melalui proses industri dengan kandungan bahan tambahan seperti pengawet, perasa buatan, gula rafinasi, lemak jenuh, dan natrium dalam jumlah tinggi. Contohnya meliputi makanan siap saji, camilan kemasan, minuman manis, dan makanan panggang olahan.
| Baca juga: Jaga Kebugaran di Usia 40 Tahun |
Dalam penelitian tersebut, para peserta menjalani penilaian pola makan melalui metode pengingatan konsumsi makanan selama 24 jam. Rata-rata, makanan ultra-olahan menyumbang sekitar 29,5 persen dari total asupan energi harian peserta.
Hasil analisis menunjukkan bahwa setiap peningkatan 10 persen konsumsi kalori yang berasal dari makanan ultra-olahan berkaitan dengan penurunan skor memori jangka pendek sebesar 0,54 poin. Hubungan tersebut tetap ditemukan meskipun peneliti telah memperhitungkan faktor lain seperti aktivitas fisik, durasi tidur, konsumsi kafein, kebiasaan merokok, hingga kondisi psikologis.
Selain memori, konsumsi makanan ultra-olahan juga dikaitkan dengan penurunan kemampuan konsentrasi. Namun, hubungan tersebut tidak sekuat dampaknya terhadap daya ingat.
Peneliti menemukan adanya titik ambang konsumsi yang perlu diperhatikan. Skor memori cenderung tetap stabil ketika makanan ultra-olahan menyumbang kurang dari 20 persen asupan energi harian. Namun, setelah melewati angka tersebut, kemampuan memori menunjukkan kecenderungan menurun lebih tajam.
Menurut para peneliti, kondisi ini kemungkinan dipengaruhi oleh tingginya kandungan gula, lemak jenuh, serta zat aditif dalam makanan ultra-olahan yang dapat memicu peradangan, mengganggu keseimbangan bakteri usus, dan memengaruhi fungsi otak melalui jalur komunikasi antara usus dan otak.
Meski demikian, penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memastikan apakah pengurangan konsumsi makanan ultra-olahan dapat memperbaiki fungsi kognitif. Temuan ini menambah bukti bahwa pilihan makanan sehari-hari tidak hanya berpengaruh terhadap kesehatan fisik, tetapi juga dapat berdampak pada kemampuan berpikir, belajar, dan mengingat, terutama pada kelompok usia muda yang sedang berada pada masa produktif. (JR)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....