Alarm Kesehatan di Sumba Timur, Dua Warga Positif Leptospirosis

  • 12 Mei 2026 14:21 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Timur mengonfirmasi temuan dua kasus positif leptospirosis yang menyerang warga dewasa di wilayah tersebut. Kasus ini menjadi temuan pertama penyakit leptospirosis di Kabupaten Sumba Timur.

Kepala Dinas Kesehatan Sumba Timur, Rambu Umbu Djima, dalam Wawancara Kupang Pagi Ini, Selasa, 12 Mei 2026 pagi mengatakan, hasil pemeriksaan Laboratorium Kesehatan Masyarakat Kupang yang diterima pada 10 Maret 2026 menyatakan kedua pasien positif terinfeksi bakteri leptospira.

Menurutnya, leptospirosis merupakan penyakit infeksi akut yang ditularkan melalui urin hewan, terutama tikus, yang mencemari air maupun tanah. Penyakit ini umumnya muncul saat musim hujan maupun banjir ketika tikus keluar dari sarangnya dan mencemari lingkungan sekitar.

“Gejala awal yang perlu diwaspadai masyarakat yakni demam tinggi mendadak, nyeri otot terutama pada bagian betis, sakit kepala hebat, hingga mata merah setelah kontak dengan air genangan,” ujarnya.

Ia menegaskan, keterlambatan penanganan medis pada penderita leptospirosis dapat berakibat fatal bahkan menyebabkan kematian. Karena itu masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala tersebut.

Kelompok petani dan peternak dinilai menjadi kelompok paling rentan terpapar leptospirosis karena sering beraktivitas di area persawahan maupun lingkungan yang berpotensi tercemar urin tikus.

Pemerintah juga mengimbau masyarakat menggunakan alat pelindung diri seperti sepatu bot dan sarung tangan saat bekerja di area berisiko tinggi.

Selain itu, edukasi perilaku hidup bersih dan sehat terus digencarkan untuk mencegah berkembangnya populasi tikus di lingkungan permukiman. Warga diminta tidak membiarkan sampah menumpuk dan tidak mengonsumsi makanan yang telah tergigit tikus.

Saat ini, Rambu Djima menambahkan, tim surveilans Dinas Kesehatan telah melakukan penyelidikan epidemiologi guna mencegah munculnya kasus baru di masyarakat. Sosialisasi pencegahan leptospirosis juga terus dilakukan melalui media sosial maupun pertemuan di tingkat kecamatan. (DB)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....