Mitos vs Fakta tentang Skizofrenia di Masyarakat Indonesia
- 30 Apr 2026 11:21 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Pemahaman masyarakat Indonesia tentang Skizofrenia masih kerap diwarnai berbagai mitos yang tidak tepat. Kondisi gangguan mental ini sering disalahartikan sebagai “kerasukan” atau dianggap sebagai akibat lemahnya iman, sehingga tidak sedikit penyandangnya mengalami stigma dan diskriminasi di lingkungan sosial.
Di berbagai daerah, masih ditemukan anggapan bahwa penderita skizofrenia berbahaya dan tidak bisa disembuhkan. Padahal, secara medis, skizofrenia merupakan gangguan otak yang memengaruhi cara berpikir, merasakan, dan berperilaku seseorang. Gejala yang muncul bisa berupa halusinasi, delusi, serta gangguan dalam memahami realitas.
Dikutip dari World Health Organization, skizofrenia adalah kondisi kronis yang dapat dikelola dengan penanganan yang tepat, seperti terapi dan penggunaan obat-obatan. Artinya, dengan dukungan keluarga dan akses layanan kesehatan, penyandang skizofrenia tetap dapat menjalani kehidupan yang produktif.
Salah satu mitos yang masih berkembang adalah keyakinan bahwa skizofrenia terjadi akibat kesalahan pribadi atau kurangnya kekuatan mental. Faktanya, kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari genetik, ketidakseimbangan zat kimia di otak, hingga tekanan lingkungan.
Selain itu, stigma sosial juga menjadi tantangan besar. Tidak sedikit penyandang skizofrenia yang justru dijauhi, bahkan dipasung, karena dianggap membahayakan. Praktik ini tidak hanya melanggar hak asasi manusia, tetapi juga menghambat proses pemulihan.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia terus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pemahaman kesehatan mental. Kampanye kesehatan jiwa digencarkan untuk menghapus stigma dan mendorong masyarakat agar lebih peduli terhadap kondisi ini.
Para ahli menekankan bahwa dukungan lingkungan menjadi kunci utama dalam proses pemulihan. Dengan penanganan medis yang tepat serta penerimaan sosial yang baik, penyandang skizofrenia memiliki peluang besar untuk hidup mandiri dan berfungsi di tengah masyarakat.
Meluruskan mitos dan memahami fakta menjadi langkah penting agar masyarakat tidak lagi memandang skizofrenia secara keliru. Edukasi yang berkelanjutan diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan ramah bagi penyandang gangguan kesehatan mental di Indonesia. (TT)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....