Pentingnya Meningkatkan Kekuatan Empati pada Perempuan

  • 10 Apr 2026 19:33 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang- Perempuan sering kali diidentikkan dengan sosok yang penuh kelembutan dan kepekaan rasa, lebih dari itu, perempuan memiliki kekuatan besar yang sering kali tidak terlihat, namun menjadi fondasi dalam kehidupan sosial, yakni empati. Hal ini disampaikan oleh Psikolog Klinis sekaligus Perawat, Ratnasari Kinanggi, Amd. Kep., S.Psi., M.Psi., dalam Obrolan Akamsi di Pro 4 RRI Kupang, Kamis 09 April 2026.

Menurutnya, empati bukan sekadar nilai moral, melainkan kekuatan psikologis yang mampu membangun relasi dan menjaga kesehatan mental. "Empati adalah kemampuan untuk memahami perspektif atau sudut pandang orang lain, merasakan emosi yang mereka rasakan, dan tergerak hati untuk menolong atau berwelas asih," ujarnya.

Lebih lanjut, Ratna menjelaskan bahwa secara ilmiah perempuan cenderung memiliki empati yang lebih kuat karena faktor biologis dan pola asuh. Adanya hormon estrogen dan oksitosin meningkatkan sensitivitas perempuan terhadap emosi, selain itu, budaya di masyarakat sering kali melatih perempuan sejak dini untuk bertanggung jawab terhadap kebutuhan orang lain.

Tetapi dibalik kekuatan empati yang dimiliki perempuan, ia mengingatkan adanya risiko burnout atau kelelahan emosional jika seseorang terlalu dalam menyerap energi negatif dari lingkungan tanpa batasan. Sebagai praktisi yang sehari-hari menghadapi berbagai persoalan pasien, ia menekankan pentingnya menetapkan batasan (boundaries).

"Kita jangan sampai larut dan sedih berlebihan. Kita harus memikirkan strategi untuk menolong, bukan ikut tenggelam dalam masalah tersebut. Penting juga untuk melakukan self-care, seperti relaksasi atau menekuni hobi agar energi kita kembali terisi," jelasnya.

Di era digital saat ini, Ratna juga menyoroti fenomena Generasi Z yang memiliki "empati digital" yang tinggi, seperti semangat melakukan donasi daring, namun terkadang kurang berinteraksi di dunia nyata. Ia berpesan agar empati tetap diasah melalui sosialisasi langsung di tengah masyarakat.

Ia menekankan bahwa empati adalah keberanian untuk ikut merasakan apa yang dialami orang lain. "Satu tindakan kecil yang penuh empati bisa menjadi penyelamat bagi kesehatan mental seseorang. Jadilah alasan seseorang merasa didengar hari ini," tuturnya.

Selain berempati pada orang lain, para perempuan juga diingatkan agar tidak lupa untuk berempati pada diri sendiri. "Kita harus sehat dan kuat terlebih dahulu sebelum bisa menolong orang lain dengan optimal," pungkasnya. (JR)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....