Peran Gereja Bentengi Remaja dari Dampak Negatif Teknologi
- 10 Apr 2026 17:27 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang – Peran Gereja telah sejak lama mencermati dampak negatif perkembangan teknologi, khususnya dalam hal seksualitas anak dan remaja masa kini. Kesadaran ini bukan muncul karena fenomena baru, melainkan telah menjadi perhatian sejak awal perjalanan gereja dalam membina umat.
“Dalam ajaran iman, seksualitas dipandang sebagai anugerah yang patut disyukuri dan dinikmati secara benar. Namun, gereja juga menyadari adanya potensi penyimpangan yang dapat merusak kehidupan manusia jika tidak dikelola dengan baik dan bertanggung jawab,” kata Pendeta Ishak Batmalo saat siaran di RRI, Kamis, 9 April 2026.
Ia menambahkan sejarah menunjukkan bahwa persoalan penyimpangan seksualitas sudah ada sejak masa Perjanjian Lama. Karena itu, gereja mempersiapkan jemaat untuk hidup tertib dan menjaga kemurnian sebagai buah dari iman, jauh sebelum maraknya pengaruh teknologi saat ini.
“Salah satu langkah konkret gereja adalah melalui sekolah minggu dengan kurikulum berjenjang berdasarkan usia, mulai dari 0 hingga 15 tahun. Dalam satu tahun, tersedia 52 bahan ajar yang dirancang sesuai kategori usia, termasuk pengenalan seksualitas yang sehat dan berlandaskan iman,” jelasnya.
Selain itu, menurut Pendeta yang biasa melayani di GMIT Benyamin Oebufu mengemukakan terdapat juga pembinaan melalui kategori saksi reguler dan khusus dengan 67 pokok bahan ajar. Sekitar sepertiga dari materi tersebut membahas seksualitas yang baik, risiko penyimpangan, serta konsekuensi moral dan spiritual dari penyalahgunaan seks.
“Gereja juga memberikan perhatian khusus pada saksi pernikahan dengan sekitar 20 pokok bahan ajar yang berfokus pada kehidupan rumah tangga, termasuk relasi seksual yang sehat. Bahkan, dalam kalender pelayanan tahunan, bulan Oktober dikhususkan untuk pembahasan keluarga, relasi, hingga isu perceraian,” tegasnya.
Upaya lain dilakukan melalui kemitraan dengan lembaga sosial dalam Program Pengembangan Anak (PPA) bagi usia 3 hingga 22 tahun. Program ini tidak hanya memperhatikan kebutuhan fisik anak, tetapi juga perkembangan sosial-emosional melalui pendampingan mentor, tutor, serta pelatihan minat dan bakat.
Meski berbagai langkah telah dilakukan gereja, tantangan tetap ada. Peran orang tua dinilai masih perlu ditingkatkan agar sejalan dengan pembinaan gereja. Kolaborasi yang kuat antara keluarga dan gereja diyakini akan memberikan dampak yang lebih besar dalam membentengi generasi muda dari penyimpangan seksualitas di era digital.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....