Stoikisme: Seni Mengelola Emosi
- 19 Mar 2026 06:11 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID,Kupang - Di tengah tekanan hidup modern yang semakin kompleks, banyak orang mulai mencari cara untuk tetap tenang dan stabil secara emosional. Salah satu pendekatan yang kembali populer adalah Stoikisme, sebuah filsafat kuno yang mengajarkan pentingnya mengendalikan diri dan menerima hal-hal yang berada di luar kendali.
Stoikisme berasal dari Yunani kuno dan berkembang pesat di Romawi. Tokoh-tokohnya seperti Marcus Aurelius, Seneca, dan Epictetus menekankan bahwa kebahagiaan sejati tidak ditentukan oleh keadaan luar, melainkan oleh bagaimana seseorang merespons situasi tersebut.
Dalam praktiknya, Stoikisme mengajarkan seseorang untuk membedakan antara hal yang bisa dikendalikan dan yang tidak. Emosi seperti marah, cemas, dan kecewa tidak dihindari, tetapi dikelola dengan cara yang rasional. Prinsip ini dinilai relevan dengan kondisi saat ini, di mana banyak orang rentan mengalami stres akibat tekanan pekerjaan, media sosial, hingga persoalan pribadi.
“Stoikisme membantu seseorang untuk tidak bereaksi berlebihan terhadap situasi yang sebenarnya berada di luar kendali,” ujar seorang praktisi pengembangan diri di Kupang.
Salah satu ajaran Stoikisme yang terkenal berasal dari Epictetus yang mengatakan, “Bukan peristiwa yang mengganggu manusia, melainkan cara pandangnya terhadap peristiwa tersebut.” (dikutip dari Enchiridion karya Epictetus).
Sementara itu, Marcus Aurelius dalam catatannya juga menulis pentingnya menjaga pikiran tetap jernih di tengah tekanan hidup. (dikutip dari buku “Meditations” karya Marcus Aurelius).
Selain itu, Stoikisme juga mendorong praktik refleksi diri, disiplin, serta penerimaan terhadap realitas hidup. Hal ini dianggap mampu meningkatkan ketahanan mental dan membantu individu menghadapi berbagai tantangan dengan lebih bijak.
Namun, Stoikisme kerap disalahpahami sebagai sikap dingin atau tidak berperasaan. Padahal, filosofi ini justru menekankan pengelolaan emosi, bukan penekanan emosi. Seseorang tetap merasakan emosi, tetapi tidak membiarkannya menguasai pikiran dan tindakan.
Di era digital yang serba cepat, Stoikisme menawarkan pendekatan sederhana namun mendalam: fokus pada hal yang bisa dikendalikan, terima yang tidak bisa diubah, dan jalani hidup dengan kebijaksanaan.
Dengan pendekatan tersebut, Stoikisme tidak hanya menjadi warisan filsafat kuno, tetapi juga solusi relevan untuk menjaga kesehatan mental di tengah dinamika kehidupan modern. (TT)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....