Pikun di Usia Produktif, Fenomena Baru yang Mengkhawatirkan
- 18 Mar 2026 07:12 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID,Kupang - Fenomena menurunnya daya ingat atau yang sering disebut “pikun” kini tidak lagi identik dengan usia lanjut. Dalam beberapa tahun terakhir, keluhan mudah lupa justru semakin banyak dialami oleh kalangan usia produktif, mulai dari mahasiswa hingga pekerja kantoran.
Kondisi ini terlihat dari meningkatnya keluhan seperti lupa menaruh barang, sulit fokus, hingga sering melewatkan hal-hal penting dalam aktivitas sehari-hari. Meski kerap dianggap sepele, para ahli kesehatan mengingatkan bahwa gejala ini bisa menjadi tanda awal gangguan fungsi kognitif jika tidak ditangani dengan serius.
Dilansir dari berbagai sumber kesehatan, penurunan daya ingat tidak hanya dipengaruhi usia, tetapi juga gaya hidup. Beban kerja tinggi, stres berkepanjangan, serta kurang tidur menjadi faktor utama yang memicu gangguan memori pada usia muda.
| Baca juga: saat Apotek Menjadi Harapan Warga |
Selain itu, pola makan tidak sehat dan kurangnya aktivitas fisik juga berperan besar dalam menurunkan fungsi otak. Konsumsi makanan tinggi lemak, kekurangan nutrisi seperti vitamin B12, hingga kebiasaan begadang dapat mempercepat penurunan daya ingat.
Menurut literatur kesehatan, pikun sendiri merupakan bagian dari penurunan fungsi kognitif yang dalam kondisi tertentu dapat mengarah pada demensia, yakni gangguan yang memengaruhi kemampuan berpikir, mengingat, hingga mengambil keputusan.
Seorang tenaga kesehatan di Kupang menjelaskan bahwa otak membutuhkan keseimbangan antara aktivitas dan istirahat agar tetap optimal. “Jika seseorang terus-menerus terpapar stres tanpa diimbangi istirahat, maka kemampuan otak untuk menyimpan informasi bisa menurun,” ujarnya.
| Baca juga: Manfaat dari kakao untuk kesehatan |
Fenomena ini tentu berdampak luas, terutama terhadap produktivitas kerja dan kualitas hidup. Kesalahan kecil akibat lupa dapat berujung pada masalah yang lebih besar, khususnya dalam pekerjaan yang menuntut ketelitian tinggi.
Untuk mencegah kondisi ini, masyarakat diimbau mulai menerapkan pola hidup sehat. Tidur cukup, rutin berolahraga, mengurangi penggunaan gadget berlebihan, serta melatih otak dengan membaca atau permainan berpikir menjadi langkah sederhana yang efektif.
Selain itu, masyarakat juga diingatkan untuk tidak mengabaikan gejala yang muncul. Jika keluhan lupa terjadi secara terus-menerus dan mengganggu aktivitas, pemeriksaan medis menjadi langkah penting untuk memastikan kondisi kesehatan otak.
Fenomena pikun di usia produktif menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan tidak hanya soal fisik, tetapi juga mental dan kognitif. Di tengah tuntutan hidup modern yang semakin kompleks, kesadaran untuk merawat otak sejak dini menjadi hal yang tidak bisa ditunda lagi. (TT)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....